0

Rumah Sains Ilma di Masjid Abu Bakar, Cawang

Sabtu 10 Februari lalu kami mengikuti acara di masjid Abu Bakar, Cawang, sebagai relawan Rumah Sain Ilma. Rumah sains Ilma adalah sebuah organisasi yang memiliki tujuan untuk meningkatkan minat siswa terhadap ilmu pengetahuan alam dengan cara bermain sains. Organisasi ini dipimpin oleh bapak Muji Marpaung. Karena prihatin melihat penguasaan sain anak-anak indonesia berada pada peringkat 48 ia bersama timnya bergerak menggalang dana untuk membiayai kegiatan bermain sain.

Ingin menjadi bagian dalam kegiatan bermanfaat ini, keluarga homeschooling masjid Abu Bakar (mosqueschooling) mengajukan diri untuk menjadi relawan dalam Gerakan Bermain Sains. Di ketuai bunda Rezky Amira Sekaton, bersama pihak masjid Abu Bakar acara ini diadakan dan melibatkan sekitar dua ratus orang siswa kelas tiga hingga lima sekolah dasar dari berbagai wilayah di Jabodetabek. Saya sendiri bertugas sebagai fasilitor di pojok anak sementara teman-teman dari mosqueschooling terjun membantu tim fasilitator Rumah Sain melakukan percobaan.

Waktu melongok ke lantai empat, dimana sepuluh percobaan sain di lakukan saya melihat anak-anak yang sangat antusias mengikuti acara ini.
Beberapa anak berkomentar, ‘Ternyata percobaan itu menyenangkan ya!’

Ya, sain tanpa percobaan akan sangat garing seperti makan keripik tak bergaram, melempem lagi 😀
Tapi ilmu pengetahuan itu tak bisa disamakan dengan keripik melempem. Ilmu pengetahuan membawa kita pada pemahaman tentang manusia, tentang dunia.

Advertisements
Gallery
0

Narasi

Sudah seminggu ini saya mencoba menerapkan salah satu metode Charlotte Mason di dalam kegiatan membaca yaitu bernarasi. 

Bernarasi adalah menceritakan kembali sebuah cerita yang saya bacakan. Tujuannya adalah melatih kebiasaan menyimak (habit of attention). Bernarasi ini dianjurkan dilakukan ketika anak berusia enam atau tujuh tahun, pada tahun pertama kurikulum ini diterapkan pada anak. 

Bagaimana awalnya saya mengenalkan bernarasi ini pada Kanza? Alhamdulillah, karena sejak dini Kanza sudah terbiasa dibacakan cerita atau membaca buku, tidak terlalu sulit bagi kami memintanya bernarasi. Kami selalu ceritakan padanya mengapa dan untuk apa bernarasi agar ia sadar sepenuhnya dan melakukannya tanpa terpaksa. Karena keterpaksaan dan ketakutan menghancurkan tujuan pendidikan kelurga kami: belajar dengan bahagia. Sekiranya anak-anak belum terbiasa atau tertarik, ciptakan dahulu atmosfir mencintai buku di dalam keluarga. Mulai dari diri kita sebagai orang tua karea tak adil rasanya jika kita tak tahu rasanya haus akan buku tetapi meminta anak2 untuk mencintai membaca. 

Buku-buku apa saja yang diberikan kepada anak? Charlotte menganjurkan agar orang tua menyajikan pustaka hidup (living books). Sama seperti tubuh fisik yang memerlukan makanan bergizi, kisah2 yang disajikan pada anak seharusnya yang menginspirasi, menghidupkan imajinasi, penuh pesan-pesan moral tetapi tidak terkesan menggurui sehingga jiwa dan pikiran anak terisi oleh kisah-kisah hidup. 

Untuk Kanza saat ini, di tahun pertamanya, kami hanya membacakan satu paragraf setiap hari dari salah satu pustaka hidup wajib yang kami bacakan. Bacaannya pun di bacakan satu kali dan tidak boleh diulang karena tujuan dari bernarasi ini adalah ‘memperhatikan/menyimak.’ Banyaknya cerita yang ia ceritakan kembali bukan target akhir. Sedikit apapun narasi yang ia hasilkan, selama ia memperhatikan dengan penuh kesadaran dan kesungguhan sudah mencukupi untuk saat ini. 

Always start small.

Gallery
0

Menemukan Hobi Baru

Saya tidak percaya kalau saya bisa menggambar. Sejak kecil menarik garis di kertas pasti melengkung, membuat lingkaran pasti gepeng, membuat sketsa pasti belepotan, apakah itu karena tidak proporsional atau bentuknya sangat jauh panggang dari api. 
Sampai suatu saat saya berkesempatan mengikuti sharing menggambar perspektif dari teman di komunitas belajar bersama. Saya belajar membuat bangunan2 dgn panduan satu titik, lalu saya banyak melihat teknik teknik menggambar di Youtube. 

Ternyata sesuatu yang tak mungkin itu menjadi mungkin.

0

Membuat Pie Buah

Kemarin kami bergabung di Kolase dalam kegiatan membuat pie buah. Buat saya, Pie buah ini sudah sering kami cicipi namun belum pernah kami buat sendiri. Kebetulan juga kami tidak punya resepnya dan belum tahu bagaimana membuatnya. Sebenarnya banyak resep yang bisa kita coba dengan hanya mencari di mesin pencari, namun pasti apa yang setiap orang buat akan memiliki cita-rasa yang khas. Berikut ini resep pie buah yang saya dapat dari mba Irayda, fasilitator pembuatan pie buah ini.

Resep Kulit Pie
Bahan:
170 gr tepung terigu
100 gr margarin/butter
1 sdm gula halus
1 btr kuning telur

Campur bahan di atas hingga rata dan membentuk adonan yang dapat dipulung.
Ambil sekepal lalu bentuk bulatan.
Cetak dalam cetakan pie yang sudah dioles margarin.
Tusuk-tusuk pie dengan garpu.
Panggang dalam oven suhu 180 derajat celcius hingga kuning kecoklatan.
Dinginkan.

Bahan Vla:
5 btr kuning telur
30 gr tepung maizena
500 ml susu cair plain
1 sdt vanili ekstrak/ bubuk
1 sdm margarin
100 gr gula pasir

Cara Membuat Vla
Ambil sebagian susu lalu campur dengan kuning telur.
Aduk sampai tercampur rata.
Masukkan tepung maizena dan adoni hingga tidak berbulir-bulir.
Panaskan sisa susu yang dicampur dengan gula, didihkan.
Masukkan campuran susu dan telur dan vanili.
Ubah pengaturan api ke api kecil dan biarkan adonan meletup-letup dan mengental.
Dinginkan.

Menghias Pie Buah
Pilih beberapa buah-buahan lalu potong kecil-kecil.
Ambil kulit pie, tuang adonan vla yang sudah dingin dan tata buah di atasnya.
Untuk mengikat agar buah tidak mudah tergeser dan menambah keindahan pie, buat agar-agar bening lalu tuang sesendok hingga agar-agar melapisi penuh pie buah.
Diamkan sebentar dan pie buah siap dinikmati.