Gallery
0

What is a rope (Apalah Arti Seutas Tali?)

Buat putra kami yang tadi pagi kami ajak berlari-lari pagi di Harapan Indah, Bekasi seutas tali bisa sangat berarti. 

Buatnya ia seperti ular panjang yang meliuk-liuk di atas rerumputan saat ia bawa lari. Selain itu tali bisa mengikat dan membawa ayahnya ke rute manapun yang ia suka.

Ketiga, tali adalah jembatannya mempelajari matematika dan astronomi: berapa panjang dan diameter tali?

Tadi pagi ia meminta saya menjadi matahari, ia bumi, dan ayahnya Bulan. Ia memutari saya sementara ayahnya berkeliling memutarinya sambil berputar mengelilingi saya. 

What a fun day it is. 

Advertisements
Gallery
0

Terbang

Mungkin hari kemarin adalah awal mula dia akan terlepas dari ketek. 😀 Selama ini hampir di setiap acara, bermain bersama, workshop, atau dongeng, ia tak mau lepas dari samping saya. Ia harus yakin kalau saya ada di belakangnya, menemani setiap sesi. 

Saya bahagia, terharu, juga sedikit sedih. Lebay yaa 😀 Tapi begitulah boibo. Kemarin itu dia dengan percaya diri duduk di samping temannya di barisan paling depan menyaksikan sandiwara Teater Koma, acara yang diadakan oleh Museum Nasional. Ia langsung nimbrung ngobrol. Saya pikir beberapa menit kemudian ia pasti akan balik ke saya dan duduk di pangkuan karena tak tahan suara keras. Kebetulan speaker tak jauh darinya. Selain itu, ia tak kuat dengan adegan umpet2an atau para pemain yang berteriak lantang.

Tak bergeming boibo. Sampai acara usai ia tetap di baris terdepan, ikut bersorak, turut bertepuk tangan.

Perjalanan saya menemani putra saya yang bertipe introvert, lama panas, tak mudah melebur, lumayan panjang. Mungkin saya yang terlalu khawatir dan parno karena melihat teman-temannya yang mudah bergaul. Sejak saya sering di rumah, saat itu usianya empat tahun, saya mulai memperhatikan sifatnya yang tak mau bermain ke luar. Lebih sering nyaman di dalam rumah. Kemungkinan juga saat itu dia sudah asyik dengan lego.
Sayapun sering mengajaknya jalan-jalan dan bertemu banyak orang. Perjalanan pertamanya yang mungkin menakutkan sekaligus mengesankan adalah naik kereta. Dadanya berdebar keras saat saya ajak ia naik. Ia menangis sebentar dan sejenak kemudian sampai usianya lima tahun ia sangat gandrung dengan kereta.
Saya pun mengundang teman-temannya untuk main di rumah, mengenalkan dan berkegiatan bersama dengan temanteman seusianya di beberapa komunitas homeschooling. Boibo tahu, di tengah-tengah banyak temannya, ia cenderung a single player. Hampir dua tahun demikian. Sampai akhirnya, lambat laun ia mulai nyaman berada di antara teman-teman dan sering menantikan mereka datang. Tapi sayang teman-teman di rumah sudah banyak yang masuk Sekolah Dasar. Kegiatan mereka penuh hingga sudah jarang main. Karenanya, saya mengaktifkan diri di banyak komunitas homeschooling.

Boibo, kalau anaknya mirip-mirip anak saya, tak usah khawatir. Ini ada beberapa tips dari saya agar tak parno.

– Terima dia seutuhnya. Setiap anak itu unik. Ada masanya ia akan merasa nyaman berada bersama teman-temannya. Saat ini ia hanya sedang membutuhkan kenyamanan dari ibu. Kepercayaan diri anak akan tumbuh seiring usia. Kita hanya perlu menemani sampai saatnya ia siap.

– Jauhkan dari perkataan yang melabeli negatif. Cengeng, penakut, cemen. Elus saja dia kalau ia tak mau bermain bersama teman2 dan lebih nyaman nempel di ketek bunda. 😀

– Haram membanding-bandingkan. Tahap perkembangan setiap anak itu berbeda boibo. Lempeng saja kalau ada yang ngata-ngatain anak kita dengan sebutan, ‘anak mami,’anak penakut,’ga gaol.’ ‘Gimana kalo ntar kalo udah punya istri? Pasti lebih sayang mami.’ Yang negatif-negatif, abaikah. Anak mami adalah sebutan anak manja yang seluruh kebutuhannya dipenuhi tua. Sampai dewasa masih disuapin bahkan dicebokin 😀 Ga mungkin lah begitu selama kita menangguhkan kemandiriannya, kepercayaan dirinya, kekuatannya. Ia akan menjadi pribadi yang mudah bergaul. Wong masih balita kok ramalannya sotoy marotoy 😀 Ajari saja anak-anak kita kemandirian yang perlu ia kuasai di usianya.

-Undang teman-teman untuk botram bersama sambil sesekali mengadakan kegiatan anak. Bisa percobaan sederhana, bermain permainan tradisional, mewarnai, masak bareng. Tak apa rumah berantakan dan repot membereskan. Hanya beberapa tahun saja kok. You’ll gonna miss the messiness!

– Bergabung dengan keluarga-keluarga yang menularkan kepositifan.

– Sering-sering ajak anak-anak untuk jalan-jalan ke alam, perpustakaan, museum, pertunjukan dan galeri seni atau taman.

So, jangan ojok-ojok anak-anak, apalagi balita yang belum mau bermain dengan teman-temannya. Perlahan tapi pasti boibo, anak-anak kita akan lepas dan terbang bebas mengangkasa menggapai impiannya. Sejauh apa persiapan kita? Yuk ah kita temani mereka dengan bahagia sampai mereka menjadi pribadi kokoh mandiri yang siap mengepakkan sayapnya.

0

Kukis Bahagia :)

Dapat resep ini saat berbagi cerita bersama keluarga homeschoolers Kaplongan. Kami hanya perlu campur-campur, bentuk,mplek-mplek dan panggang. Semua serba secangkir kecuali telurnya dan ekstrak vanila.

Ni resepnya boibo:

Secangkir terigu
Secangkir coklat butiran
Secangkir cornflakes
Secangkir brown sugar
Secangkir butter (isa campuran mentega dan butter)
Sedikit ekstrak vanila
sebutir telur
daaan yang paling penting secangkir cintaaah.

Campur semua bahan hingga tercampur rata kemudian ambil sejumput menggunakan sendok lalu pipihkan di loyang dan panggang hingga matang.

Kriuukk! 😉

Maap, belom ada penampakkan.

0

Our ‘Jirowes’

Istilah ‘jirowes’ berasal dari kata zero waste: zero dan waste.   Zero itu Nol, Waste itu sampah. Arti sebenarnya bukan sama sekali tanpa atau nol sampah. Istilah ini merujuk pada usaha mengelola sampah agar sampah-sampah yang akan dibuang dapat digunakan kembali dan atau agar sesedikit mungkin berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) demi kelestarian bumi.  Konsep Jirowes ini menurut saya tak lain merupakan konsep 4R (Reduce, Reuse, Recyle, Replace) yang sudah kita kenal lama.

Kenalan dengan Jirowes ini dua tahun lalu ketika kami mengikuti kemping Festival Pendidikan Keluarga. Setelah keluarga kecil kami berusaha menerapkan kebiasaan ini sedikit demi sedikit. Ada banyak hal, ternyata, yang bisa dilakukan untuk sedikit menyumbang kebaikan pada tempat kami tinggal yang ternyata juga mengubah sedikit banyak pola kehidupan kami. Berikut ini beberapa hal yang sudah, sedang, dan terus kami usahakan dalam upaya mendukung Jirowes.

  1. Menyimpan plastik besar dan kecil sekali pakai yang kami dapat dari pasar atau supermarket untuk kami gunakan lagi saat kami berbelanja sehingga kami tidak menambah jumlah plastik yang akan menumpuk di penyimpanan plastik sekali pakai.
  2. Menyediakan kantong-kantong kain besar atau kecil untuk mengganti kantong plastik membawa barang belanja.
  3. Membawa wadah sendiri seperti boks-boks plastik saat ke pasar atau setiap bepergian. Fungsinya yang pertama adalah sebagai tempat makanan basah seperti ikan, daging, dan makanan matang
  4.  Zero fridge. Berusaha tidak menumpuk makanan di kulkas. Masak yang sudah tersedia agar sayuran atau makanan yang akan kita makan dalam keadaan terbaiknya dan membuat kulkas tetap rapi dan bersih.
  5. Selalu membawa sapu tangan atau lap makan sebagai pengganti tissue.

    Selain mengurangi timbunan sampah ternyata ada manfaat tak terduga lain loh dari penerapan jirowaste keluarga kami: mendapat diskonan dari penjual atau mendapat tambahan dari barang yang kami beli 😀 Beneran, ini terjadi berkali-kali. Saat membeli ikan di pasar, saya sering dapat diskon dua ribu sampai tiga ribu rupiah. Waktu ke penjual ayam, ibu penjual sering menyelipkan dua paket ati ampela atau bahkan tambahan dagingnya. Waktu beli kacang hijau, penjual menambahkan satu centong.
    Maka, Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
    Mau coba? 🙂