Rencana kehidupan

Kemarin seorang keluarga dekat, Bude Hemi, dipanggil Yang Maha Kuasa di usianya yang memang sudah renta, sekitar 70-an. Dibanding ayah mertuaku yang merupakan adik, Bude Hemi terhitung lebih lama usianya. Ayah mertuaku telah lebih dahulu pergi bulan Mei 2012 tahun lalu. Ia meninggal karena darah tingginya yang tiba tiba melonjak naik, membuat pembuluh darah di otak pecah. Abah, begitu kami memanggilnya, meninggal tak lama setelah serangan stroke itu. Pagi di bawa ke rumah sakit, dan di malam hari, belum lagi operasi dilaksanakan, Abah telah pergi meninggalkan kami. Kepergian yang membuat kami tercengang, terutama aku yang saat itu sangat optimis Abah akan sembuh setelah operasi dan berharapan Abah berkesempatan menyaksikan putra terakhirnya menikah, dan menimang cucu-cucunya yang lain. Lain halnya dengan Bude Hemi, kakak Abah. Kondisi rentanya membuatnya terbaring selama bertahun-tahun. Kedua matanya tidak dapat melihat jelas dan pendengarannya terus berkurang.  Sesekali ia masih dapat mengenali kami saat kami berkunjung di lebaran tahun lalu. Tetapi kemudian lupa kembali. Hingga kemarin sore, Allah memanggilnya.

Namun, usia renta atau tidak, suatu saatnya nanti kita semua akan kembali kepada-Nya. Bagi Abah dan Bude, usia tua dan sakit mengantarkan mereka pergi, bagi beberapa orang kematian datang secara tiba-tiba, tanpa disangka keluarga terdekat, dan di usia yang masih sangat muda.

Aku sendiri, terkadang bertanya-tanya sendiri tentang bagaimana akhir dari kehidupanku. Aku berdoa kepada Allah hingga pada saatku nanti, aku pergi dengan baik (husnulkhotimah), dalam keadaan mengingatnya. Aku berdoa, semoga pada saat itu anak-anakku sudah mandiri, aku telah selesai menunaikan  seluruh kewajiban kami sebagai orangtua dan menyampaikan pesan bahwa hidup ini kepunyaan Allah, semua berasal dari-Nya dan kembali kepada-Nya. Dunia hanyalah tempat singgah sementara, tempat kita menanam benih-benih kebajikan kepada keluarga, kerabat, dan sesama.

Duh, serius amat yach tulisanku. Tapi begitulah, mendengar berita duka itu, semalam terpikir betapa banyak hal yang belum kami lakukan; bagaimana jika kami dipanggil saat Kanza belum mandiri, kami belum menunaikan haji; bagaimana masa pensiun kami sampai-sampai aku menghitung usiaku dan usia suamiku; kapan anakku sekolah, kapan ia menikah. Sampai gak ya kami nimang cucu.  Banyak yang rasanya belum kami persiapkan. Dan, aku terpikir betapa pentingnya sebuah rencana kehidupan itu.

Hal pertama yang kupikirkan adalah jika aku berencana untuk dapat menyaksikan cucu-cucuku, tiga atau empat puluh tahun kemudian aku harus masih sehat, setidaknya tidak sakit-sakitan, hingga akhirnya pergi sebelum kesampaian melihat cucu. Artinya sejak saat ini, gaya hidupku harus sehat. Gak lagi donk sering-sering makan junkfood, berkolesterol tinggi, dll dll yang kesemuanya menimbulkan penyakit. Kedua, jika aku ingin dapat menyekolahkan anakku dengan layak, menunaikan haji, berpelesir bersama keluarga, pensiun dengan nyaman, bersedekah banyak, maka aku harus mengelola keuangan keluarga dengan baik. Ketiga, jika aku ingin akhir hidupku baik, aku harus lebih banyak berbuat baik, lebih sabar, lebih pemaaf, lebih banyak bersedekah, lebih bersungguh-sungguh mengamalkan al-Quran dan lebih istiqamah, dan lebih …. untuk semua hal yang baik.

Oleh karena itu, aku harus lebih berencana, berusaha dan berdoa, dan hasilnya, hanya Allah yang menentukan. Dan aku yakin Allah akan memberi yang terbaik dari semua usaha terbaikku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s