Belajar Membaca

Membaca itu ternyata bukan hal yang mudah ya! Membaca bukan hanya hafal dua puluh tujuh huruf lalu ketika melihat kata- kata kita dapat mengejanya dan mengucapkannya. Membaca bukan hanya mahir mengucapkan kata-kata yang tertulis. Membaca lebih dari itu semua.

Buat seorang ibu yang baru dikaruniai putra, ibu mana yang tidak bahagia ketika K sudah hafal semua huruf, semua angka dan dapat membaca kata-kata tertentu yang pernah ia lihat dan hafal sebelumnya di usianya yang baru dua tahun. Wah… K sudah bisa ini … K sudah bisa itu  … Bahagiaaa sekali (lebay.com) Padahal di luar sana banyak anak-anak lain yang seperti K, bahkan lebih hebat. Tapi begitulah, mungkin ini sindrom new mom. Semua kebahagiaan menyangkut perkembangan anak, kelucuannya atau kemampuan barunya, dibagikan. Padahal itu normal.

Any way, sebenarnya saya tidak berusaha membuat K belajar membaca lebih dini dengan mengenalkan perhurufan dan perangkaan. Sejak bayi ada beberapa lagu mengenai huruf dan angka yang sering saya putarkan atau nyanyikan sendiri. Mau tak mau akhirnya dia mengenal bahkan hafal semuanya. Niat awal saya adalah mengenalkannya kepada buku. Sayangnya porsi memperdengarkan cerita dan lagu lewat layar monitor dan pengeras suara sepertinya lebih banyak. Saya kurang bercerita dan kurang mendekatkannya dengan media buku. Mungkin karena saat pertama kali saya membawakannya sebuah buku dan ia tidak tertarik, akhirnya saya bercerita banyak kepadanya melalui video atau lagu yang didengarnya. Alhasil, saat saya membawakan sebuah buku, ia cuek. Bahkan ia meminta saya untuk meletakkan buku itu di lemari.

Sekarang, saya mulai berusaha lagi  membacakannya sebuah buku setiap hari. Saya mencarikannya buku-buku cerita bergambar yang menarik lalu bercerita bersama. Saya juga berusaha sering membaca buku-buku saya di hadapan dia. Sebelumnya tidak. Kadang-kadang, saat saya membaca buku yang saya gunakan untuk mengajar,  saya bercerita. Ceritanya sih ngawur, sering tidak nyambung dan konsentrasinya mendengar saya sangat pendek. Tapi tak apa. Saya terus bercerita.

Saya tetap bercerita walau buku itu sebatas saya pegang tanpa saya tunjukkan gambar dan isinya. Lalu saya berhenti kalau ia sudah tidak fokus. Mungkin cerita yang tidak menarik, atau ‘penceritaan bundanya yang membosankan’ membuatnya tidak tertarik pada buku. Sempat saya kehabisan akal dan berhenti membacakannya cerita untuk waktu yang lumayan lama.

Sampai saya ingat kalau K keranjingan kereta api. Saya juga ingat buku pertama yang saya bacakan padanya sewaktu ia masih bayi. Buku Toto Chan dengan sekolahnya yang berada di gerbong kereta api. Saya coba ceritakan tentang Toto yang berangkat ke sekolah naik kereta api, yang bercita-cita ingin menjadi masinis, hingga tempat sekolahnya yang merupakan sebuah gerbong kereta.

Alhamdulillah ia suka. Akhirnya, sekarang ini saya bercerita sambil memegang bukunya, sesekali membukanya dan kadang pura-pura sambil membaca. Padahal saya mengarang cerita sendiri berdasarkan apa yang pernah saya baca dari cerita Toto Chan.  Yang penting tersebut kata gerbong kereta api! 😀

Mengajarkan anak agar cinta membaca ternyata butuh perjuangan panjang. Kalau ditilik sebenarnya saya sendiri yang harus belajar membaca. Membaca apa yang ia suka sehingga menimbulkan minat dan ketertarikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s