Melorot

‘Tuti …’ Ibu memanggilku dari dapur. ‘Tolong belikan jamu ke Namthung ya. Ini uangnya.’ Aku menggangguk pada ibu yang menjejalkan uang ribuan ke tanganku.

Aku berlari keluar dan mengajak adikku yang sedang bermain kelereng. ‘Ayo ikut Ni.’

‘Kemana, Mba?”

‘Beli jamu yuk, ke Namthung.’

Aku berjalan dan adikku mengekor, meninggalkan teman-temannya yang masih bermain kelereng.

‘Aku berhenti dulu, ya. Nanti dilanjutkan lagi.’ ujarnya.

Kami berjalan beriringan melewati gang-gang kecil menuju jalan raya. Toko Namthung berada di pinggir jalan raya dan kami berjalan bersisian merapat ke arah kiri untuk menghindari motor atau mobil yang melintas.

Sebelum sampai toko, aku melihat dari kejauhan seorang bapak tengah menyandarkan tangga bambu ke atap depan rumah. Sepertinya bapak itu akan memperbaiki gentengnya, batinku.

Kami melewati tangga yang sudah di pasang bapak tersebut dan dua rumah dari sana sampailah kami ke toko.

Aku memesan jamu pesanan ibuku pada Nci pemilik toko yang sedari tadi sudah berdiri menunggui toko dari balik etalase. Aku menyebut nama merek jamu tersebut. Tetapi, entah mengapa lidahku berulang kali salah menyebutnya: Nyoma nyemir … Nyoma nyemir.

Dikanan, adikku tersenyum dan berusaha membetulkan, Nyonya menir, Mba. Tetap saja yang keluar dari lidahku sebaliknya. Kami tertawa cekikikan menertawai diriku yang gagal menyebut Nyonya Menir. Nci pemilik toko hanya tersenyum dan langsung masuk mengambilkan jamu pesanan tanpa menunggu aku yang berusaha mengoreksi diri. Baru setelah selesai memberikan uang dan kami berbalik pulang, aku berhasil menyebutnya dengan benar.

Kami berjalan masih sambil tertawa menertawai kejadian tadi. Sedikit berlari kami melewati bapak tadi yang sudah berada di atas tangga. Kami ingat bapak itu mengenakan sarung. Tetapi sebelum sampai melewati tangga tiba-tiba adikku tersandung batu dan kehilangan pegangan. Ia berusaha mencari sesuatu yang dapat ia pegang dan menyambar benda yang paling dapat ia raih. Bapak tadi sudah menginjakkan kakinya di tangga ketiga. Karena kecil, tangan adikku tergelincir ketika meraih tangga dan akhirnya menyambar ujung sarung bapak itu. Kejadiannya sangat cepat hingga tiba-tiba sarung itu sudah tertarik ke bawah sementara si bapak terkejut dan hanya berkata, ‘Eh, eh … Neng.’ Kedua tangannya yang terangkat ke atas serta merta tidak berhasil menahan ikatan sarung di atas perutnya. Posisinya jadi sedikit menungging dengan sarung yang sudah separuh melorot tertarik ke bawah. Parahnya lagi, bapak itu ternyata tidak mengenakan celana dalam. Sebagian pantatnya terbuka. Aku berusaha menahan adikku dan mengangkatnya sambil mendongak ke atas dan meminta maaf pada si bapa. ‘Aduh, maaf Pa, maaf.’ Tapi perutku seperti di gelitiki keras dan tak tahan untuk tertawa dengan kejadian itu. Adikkupun serta merta mendongak ke atas dan juga memohon maaf padanya. ‘Maaf, Pa. Tidak sengaja.’

Segera bapak itu turun satu anak tangga dan buru-buru menarik sarung lalu membetulkannya. Untunglah dia tidak marah pada kami.

Kami tidak tahu apakah ada orang lain dari kejauhan yang melihat ini. Tetapi yang pasti setelah meminta maaf, kami berlari kencang sambil menahan tawa. Adikku berlari di depanku. Setelah hilang dari pandangan bapak itu, kami berhenti sejenak dan melepaskan tawa yang kami tahan sejak tadi. Kami tertawa terbahak-bahak mengingat kejadian tadi. Di rumah kami tertawa lagi sampai mengeluarkan air mata.

Ibu yang menerima jamu pesanannya hanya mengerenyitkan dahi.

‘Kenapa sih, kalian?’

‘Tidak ada apa-apa kok, Bu.’ Dan kami pun tertawa lagi.

 

(Cerita ini adalah kejadian nyata yang saya dan adik alami saat kami masih duduk di bangku sekolah dasar. Sampai saat ini, saya tidak bisa untuk tidak tertawa saat mengenang kejadian itu.)

Diikutkan dalam “The Silly Moment Giveaway” Nunu el Fasa dan HM Zwan

Banner-giveaway-silly-moment

 

Advertisements

4 thoughts on “Melorot

  1. Tulisan ini belum diedit mba, saya kirim langsung waktu itu karena ide menulis pengalaman di atas muncul saat itu. Sebenarnya ada satu kejadian lucu dan konyol saat saya kuliah dahulu tetapi tulisannya belum selesai. Satu pelajaran yang saya ambil dari menulis pengalaman ini adalah membuat orang lain ketawa terbahak-bahak saat membaca tulisan kita itu susah dan perlu perjuangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s