Attempt 1: Agar K tidak susah makan

Seperti biasa di pagi hari saya melihat daftar menu mingguan dan memikirkan tentang panganan sehat apa yang akan di sajikan hari ini. Karena selain target harian memberinya kegiatan berkualitas dan menyenangkan, menyajikan makanan sehat dan toyib juga menjadi salah satu target utama dalam proses homescooling kami.

Yang menjadi persoalan kami sekarang ini adalah K dalam fase sulit makan. Usai memasak, sayur dan lauk sehat atau pancake pagi buatan bunda terhidang, K  hanya akan bilang ‘Wow!’ tapi setelah itu tidak berkelanjutan.

Harapan membuncah selama memasak sirna saat ia hanya menggigit atau mencicip sedikit lalu asyik masyuk dengan mainannya. Dalam hati saya menggerutu dan menjerit, ‘Ayo, K makaaan. Ini bunda sudah buatkan makanan enak dan sehat untukmu.’ Emosi saya tahan agar marah tidak keluar dan memaksanya.  Saya paksakan menyunging senyum. Bagi para bunda yang pernah mengalami ini … huuu ‘you know what I feel’ pastinya 🙂

Karenanya, saya mencari berbagai cara agar ia mau makan. Saya browsing pengalaman-pengalaman mereka yang anaknya sulit makan atau tulisan para pakar bagaimana menangani anak sulit makan. Dari menghidangkan beragam jenis makanan, menyajikannya dengan indah, melibatkan anak dalam penyajian makanan, hingga mengkondisikan kegiatan makan sebagai satu kegiatan yang tak terganggu oleh bermain.

Salah satu tips yang saya lakukan kemarin adalah berusaha melibatkannya dalam memasak. So, berbekal simpanan oyong dan udang di kulkas, saya memintanya untuk mengiris sayuran yang kulitnya sudah dibersihkan itu. Saya katakan padanya bahwa menu hari ini adalah tumis oyong dan udang goreng tepung.

Dan K pun memotong-motong oyong, pakai pisau beneran loh. Untuk yang satu ini ayah mengawasi. Ia terlihat senang dan setelah saya memperlihatkan bagaimana oyong harus di potong, ayah sesekali mengajarinya mengiris . Well, namanya anak, hasil potongannya pun belum rapi dan hasilnya berupa potongan besar sampai cacahan 😀 Tapiiii, itu sesuatu bangeueut.

Lalu, ia melihat bagaimana saya menumis bumbu. Saya pun memintanya untuk memasukan sayuran itu ke dalam wajan. Setelah selesai saya hidangkan sarapan pagi itu dengan hati berharap cemas.

Hasilnya sodara-sodara: ia makan dengan lahap, ALHAMDULILLAH. Saya lihat dia menyendoki nasi sendiri, bahkan menyendoki nasi untuk ayah, dan memilih untuk makan tanpa sendok. Dalam hati, ‘Zaaa, tiap ari begini yaaaa. Ga pusing bunda sepuluh keliling.’

Bungahnya hati ini karena udang semanggkuk kecil banyak ia makan bersama nasi. Walau ia hanya mengambil kuah tumis oyongnya, setidaknya saya bahagia ia mau mencicipi sayur buatan bunda dan kenal serta akrab pada panganan rumah sederhana namun sehat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s