Belajar mendongeng bersama Kak AIO

Minggu tanggal 29 November lalu kami berkesempatan untuk mengikuti sebuah acara sharing yang diadakan oleh Sekolah Relawan dan klub Ayo dongeng Indonesia dalam forum sharing di Kantor Redaksi Detik.com. Sharing ini bertujuan memberi pelatihan dasar bagi mereka yang berniat belajar mendongeng dan dihadiri oleh karwayan Detik.com, para relawan dongeng dan beberapa keluarga. Salah satunya saya, seorang emak yang membawa putranya, Kanza. Buat saya, tujuan kemari adalah ingin mengetahui bagaimana mendongeng yang seru karena AIO yang saya kenal adalah salah satu pendongeng internasional yang memang – saya pernah mendengar kicauannya di Fesper 2015 dan Festival Dongeng 2015 – keren abis, kocak, dongengannya berbobot, dan benar-benar menghibur.

Acara dimulai jam sembilan sedangkan kami tiba pukul 10. Well, ini karena kealpaan saya. Beberapa hari sebelumnya hingga hari H saya tidak komunikasikan hal ini pada Kanza sehingga saat akan berangkat ia agar rewel. Alhasil, molor satu jam. Walau begitu, alhamdulillah kami masih mendapatkan inti acaranya. Berikut ini yang dapat saya ceritakan dari acara itu.

Mendongeng, seperti yang diungkapkan AIO, adalah komunikasi dua arah yang melibatkan dua orang  atau lebih dan diumpakanan seperti berbincang-bincang atau berbicara pada seseorang. Pada siapapun kita berbicara tentunya kita berharap mereka mendengar, memperhatikan dan menyimak. Demikian juga dengan mendongeng. Salah satu tolak ukur apakah pendengar menyimak adalah dengan melihat bahasa tubuhnya. Patokan pertama adalah mata lalu hidung 😀 kemudian bibir. Kedua mata pendengar yang menyimak biasanya mengikuti kemana pendongeng bergerak.  Ujung hidung merupakan bagian paling terdepan (jika pendengar duduk). Bibir bergerak-gerak karena tertawa, mengeluarkan suara, atau mengikuti apa yang diucapkan pendongeng. Kalo badan sudah mendoyong ke belakang bertumpu pada kedua tangan, kedua mata tidak terfokus pada pendongeng?

Tolak ukur lain adalah penceritaan. Cerita dan tokoh yang tidak jelas, datar, atau suguhan kalimat tidak teratur, dapat menyebabkan pendengar bosan. Apalagi kalau dalam dongeng itu kita ingin menyampaikan pesan moral yang dalam dan tidak ingin pendengar kita kabur. Lalu, bagaimana agar mereka tetap berada di tempat duduknya dan menyimak?

Ada empat hal dasar  penting dalam mendongeng yang dapat membuat dongengan menjadi menarik: cerita, suara (intonasi), ekspresi, dan bahasa tubuh (gesture). Menurut AIO, dengan empat poin ini, tanpa bantuan alat peraga seperti boneka, gambar atau alat musik sebenarnya pendongeng sudah dapat menyuguhkan dongeng sederhana tetapi seru, menyenangkan dan menyihir pendengar tanpa membuat pendongeng kelelahan.

Pertama, cerita. Pilih cerita yang sesuai usia. Untuk balita – saya pilih balita – sebaiknya beralur maju, tanpa bubuhan kilas balik. Pada usia ini anak masih belajar mengkoordinasikan otak kanan dan kiri, mengembangkan kemampuan motorik halus dan kasarnya, dan mereka belum mengenal konsep seperti kanan-kiri, atas-bawah secara sempurna.  Karenanya, kalimat-kalimat sederhana mengandung sebab akibat yang jelas, dan tidak bertele-tele sangat dianjurkan. Selain itu, kata AIO, ‘haram’ mengucapkan kata ‘tiba-tiba’ di tengah cerita tanpa sebab yang jelas. Ceritakan kegiatan sehari-hari sederhana untuk membentuk kebiasaan baik seperti bangun dan mandi di pagi hari, makan sendiri, menyikat gigi, atau tentang berbuat baik. O ya, jangan lupa durasi waktu. Tiga sampai lima menit sudah cukup. Konsentrasi anak di usia ini cenderung pendek karena biasanya di menit ke lima anak-anak ini sudah kabur entah kemana.

Hal kedua adalah suara. Kita bisa menggunakan suara lembut, lantang, keras untuk menggambarkan beberapa tokoh agar tercipta imajinasi tentangnya. Kira-kira untuk Timun Mas yang mungil, cantik, baik, suara seperti apa yang cocok untuknya? Tentunya, pendengar anak akan kebingungan jika tokoh Timun Mas kita presentasikan dengan suara bas besar dan menggeram. Dalam hal suara, gunakan juga intonasi untuk menyatakan perasaan bahwa tokoh ini sedang marah, sedih, khawatir, gembira, atau takut.

Selain intonasi, agar penggambaran perasaan tokoh lebih kuat, gunakan ekspresi wajah. Coba deh ucapkan  kata ini pada seorang anak tetangga ‘Mama mana?’ tapi dengan mata mendelik, hidung kembang kempis, dagu sedikit mengangkat belum lagi diiringi suara cepat, nyaring dan membentak 😀 Alhasil, anak itu bisa jadi menangis, terkaget-kaget, atau lari. Lima menit berselang mungkin si emak pun datang. 😀 (don’t try this at home!) Nah, kalau hal ini diterapkan dalam mendongeng?

Selanjutnya adalah bahasa tubuh. Di sini AIO menantang kami untuk mencoba menggambarkan seorang kakek tua bersepeda ontel dengan menggunakan bagian tubuh dari kepala hingga perut. Selainnya: pinggul ke bawah, tidak diperbolehkan.

Daaaan … , ada yang menggunakan tangan untuk menggoes seraya menggerakkan bahu ke atas ke bawah dengan kedua tangan ke depan layaknya memegang setang sedang kepala sedikit bergoyang, ada juga yang menggambarkan orang seperti sedang berlari. Saya sendiri gagal karena menggerakan kaki. Intinya, tanpa harus menggerakan seluruh anggota tubuh kita dapat mengimajinasikan banyak hal kepada pendengar. Nah, di sini lah kita tidak  perlu merasa kelelahan karena melompat-lompat meniru kelinci. Kebayang jika ada banyak tokoh binatang di dalam cerita. 😛

Terakhir, hal penting yang perlu diingat setelah mendongeng adalah jangan pernah memberitahukan pesan moral yang terkandung di dalam cerita kepada anak. Biarkan ia mengetahuinya sendiri dengan cara membahas cerita itu bersama-sama. Ajukan pertanyaan-pertanyaan terbuka untuk menguji apakah mereka menyimak apa yang kita ceritakan. Contohnya, terutama ini untuk pendengar anak, Apakah kalian suka ceritanya? Bagian mana yang kalian suka? Menurut kalian, bagian mana yang paling seru? Si tokoh … ? Baik atau tidak? Sifat apa saja yang kalian suka dan tidak suka dari si tokoh … ? Mengapa?

Alih-alih menggurui, pertanyaan-pertanyaan itu menggiring anak untuk menyimpulkan sendiri dan secara tidak langsung memperoleh pelajaran dari cerita.

Mau coba?  Saya sendiri sudah praktikkan hal ini pada putra saya dan alhamdulillah sementara ini berhasil. Lho? Iyaa, perlu banyak membacakan dongeng sebagai latihan agar lebih efektif dan mengena, asyik, seru dan tentunya di simak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s