Tentang Komitmen dan Komunikasi

Setengah hari kemarin saya bekerja. Alhasil Kanza bersama ayah di rumah. Dari kantor, saya menelepon apakan ada drama pagi? Maksud drama di sini adalah apakah ada ongkot-ongkotan antara suami dan putra yang menyebabkan salah satunya kesal atau marah sehingga keduanya saling menyentak ketika berbicara, Kanza menangis, rewel tak jelas, atau kesal berjama’ah.

Suami bercerita bahwa memang ia agak sulit untuk mandi. Ia sudah lebih asik dengan mainannya ketimbang kebiasaan setiap paginya yaitu mandi.

Suami bertanya padanya,’Jam berapa akan mandi?’ Alih-alih menggunakan kalimat perintah atau suruhan plus ancaman, ketika berbicara menyampaikan apa yang kami mau kami berusaha memberinya waktu serta pilihan kepada. Ia menjawab bahwa ia akan mandi saat jarum panjang menunjuk pada angka 2 dan jarum pendek di angka sepuluh. Cara seperti ini membuatnya lebih merasa bertanggung jawab pada dirinya sendiri dan memiliki peran menentukan apa yang ia ingin lakukan.

Tapi kemudian, suami bercerita bahwa akhirnya ia memang mandi. Hanya saja masih belum atas inisiatifnya sendiri menjalankan komitmen yang sudah dia buat. Ia mengulur waktu sampai sampai jam dua belas siang itupun suami membopongnya sambil bercanda.

Baiklah. Saya pun menutup telepon.

Usai sholat subuh tadi saya dan suami berdiskusi tentang apa saja yang terjadi kemarin termasuk soal komitmen tadi. Mengapa sekarang-sekarang ini ia tidak sekomit seperti sebelumnya. Mengapa ia sering sekali mengulur waktu: yang buat lego dululah, beraktifitas dululah dll. Padahal setelah tiba waktunya ia kami ingatkan. Selain ini, kami juga membahas tentang cara kami berbicara atau menyampaikan sesuatu kepada Kanza. Produktifkan atau destruktif?

Lalu setelah membahas sebab musabab,disimpulkan bahwa kemungkinan besar Kanza jarang melihat contoh berkomitmen dari kami dan kebiasaan yang kami tanamkan mulai longgar. Kembali kepada kami lagi memang. Kami yang harus memperbaiki diri terlebih dahulu.

So, apa yang harus kami lakukan? Mulai kembali untuk komit pada diri sendiri, menuliskan kejadian2 hari itu berserta cara kami menghadapinya lalu mendiskusikannya.

‘An ounce of practice is worth more than tons of preaching.’
(Gandhi)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s