Awas!

Ini sebenarnya tulisan yang ketiga karena kedua tulisan di judul ini hilang. Pertama berjudul ‘Kecupan,’ kedua ‘Bahasa Cinta Kami,’ dan yang ini berjudul seperti di atas. Semoga tidak hilang lagi.

Saya menulis ini sebagai latihan menuangkan gagasan juga memenuhi tantangan hari ke-6 di Kuliah Bunda Sayang.

Tanggal lima lalu kami berada di masjid. Saya sholat taraweh sementara Kanza bermain bersama temannya di luar. Saat mengecek ternyata mereka tengah bermain di tangga masjid. Saya melihatnya sedang bermain perosotan di tembok pegangan tangga.

Seketika saya panik. Saya khawatir ia jatuh karena tangga masjid tergolong curam. Selain itu, ini pertama kali ia berani menggantungkan badannya dengan tangan memegang pegangan tangga lalu meluncur ke bawah. Kalo tangannya terlepas ia bisa terjatuh.

‘Za, Awas! Kok main perosotan di situ.? Ayo, turun.’ Reaksi saya langsung memberi perintah.

Kemudian saya ingat satu hal. Terkadang anak-anak ingin mencoba hal-hal baru yang nampak membahayakan bagi kita orang dewasa tetapi tidak bagi mereka. Mereka cenderung mengeksplorasi tanpa tahu bahayanya dan saya sebagai orang tua bertugas mengawasi dan berusaha tidak memberi tahu dengan cara yang justru membuat mereka semakin penasaran lalu terus mencoba tanpa tahu akibatnya. Mereka juga berhak untuk mencoba hal yang baru tetapi juga tahu konsekuensinya sehingga mereka akan lebih hati-hati. Gaya komunikasi orang tua terkadang mematikan keingintahuan atau kesempatan anak belajar hal baru

Karenanya saya coba ubah gaya bahasa saya dengan menegonya.

‘Kamu ga takut jatuh bergelantungan disitu lalu meluncur ke bawah, Za?’
‘Kan tanganku sudah kuat, Bun.’ ‘Aku gak akan jatuh, kok. Nih, lihat tanganku pegang tangga jadi gak jatuh.’
‘Bagaimana kalau perosotannya di sisi yang lebih bawah saja?
‘Di sana ada teman-teman.’ jawabya.
‘Nampaknya di bawah tidak terlalu berbahaya. Menurut bunda perosotan di situ terlalu tinggi. Tinggi badan mu masih jauh dari lantai. Kalau jatuh, salah satu anggota badanmu bisa patah. Mending sebelah sini saja yuk.’ ‘Kalau Bunda sudah selesai sholat, Bunda mau temani kamu main di tempat yang tinggi. Tapi sekarang, Bunda masih harus sholat.’ ‘Yuk.’

Agak lama membujuknya tetapi akhirnya ia beringsut turun.

‘Hati-hati bermain di tangga ya.’ ujar saya sebelum kembali masuk ke masjid.

Agak ketar-ketir sih tapi saya coba beri kepercayaan padanya bermain di sana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s