The Right Time (not the left :)

Menumbuhkan kebiasaan untuk menjawab ketika ada orang bertanya, tidak menyela di tengah perbincangan, masih menjadi pr kami berdua.

Saya ingat saat itu saya sedang asyik mengobrol dengan seorang teman, tiba-tiba Kanza datang tanpa permisi bertanya apakah ia boleh bermain bersama teman-temannya ke lantai atas. Atau tiba-tiba datang mendekat dan nyerocos bercerita panjang lebar tentang pengalaman yang baru dialaminya.

Beberapa orang mungkin memakluminya karena ia masih kecil. Tapi saya pribadi sangat tidak nyaman. Sejak dini anak harus dikenalkan adab dalam menyela pembicaraan.

‘Kanza bisa tunggu sebentar? Bunda sedang berbicara pada tante Nita. Tak baik menyela pembicaraan.’

Etapi, ia terus lanjut nyerocos. Saya pun diam sampai dia selesai.’ Dalam hati, ‘Ni anak ga ada sopan santunnya.’ Yaudah, pendam saja dulu.

Di kereta api dalam perjalanan pulang, saya membahas kejadian tadi.

‘Za, ingat tidak waktu Bunda sedang ngobrol dengan tante Nita dan kamu tiba-tiba cerita tentang permainan kamu dan teman-teman di lantai atas?’

‘Hmmm, yang mana ya Bun? Aku lupa.’

‘Di rumah tante Nada. Setelah Kanza main di atas, lalu Kanza ke Bunda. Bunda saat itu duduk di lantai di depan sofa.’

‘O, iya. Aku ingat.’ ia nyerosos lagi betapa serunya permainan hari itu di lantai atas. Ia bercerita tentang temannya yang menjatuhkan mobil-mobilan hingga nyaris mengenai seseorang di bawah.’

Saya dengarkan ocehannya sampai selesai.
‘Wah, seru ya!’ Ia mengangguk

“O ya, bunda ingin tanya. Kalo misalnya, Kanza sedang asyik ngobrol ama siapaa gitu. Alfi misalnya. Kanza sedang bicara. Tiba-tiba ada teman yang nanya ke Alfi. Kanza jadi harus berhenti ngomong. Perasaan kamu gimana?’

‘Hmmm, ya gak apa apa sih bun?’

‘Oo, gitu ya.’ Nampaknya ia belum paham benar.

‘Kalo bunda sih merasa tidak nyaman. Tiba-tiba ada yang nanya. Trus jadi harus stop ngomong. Seperti tadi di rumah tante Nada. Tiba-tiba Kanza cerita. Padahal bunda sedang ngobrol sama tante Nita.’ ‘Lain kali, kalo Bunda sedang bicara tolong ijin dulu, ya.’

Menurut saya, saat ia mengangguk, ia masih belum paham sepenuhnya tentang rasa ketidaknyamanan disela orang lain. Ini jadi pr kami di rumah. Caranya ijin juga dia belum tahu dan perlu banyak jam terbang membiasakan hal seperti ini.

So, hari itu saya berusaha menahan diri untuk tidak membahas tindakannya di depan orang lain walau sempat terceletuk menasihatinya secara langsung.

Pe er saya lagi. 🙂 Orang tua juga perlu belajar dan membiasakan diri untuk tahan tidak nyerocos langsung apalagi disertai bentakan, suruhan, nasihat panjang lebar saat anak melakukan hal yang kurang berkenan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s