0

Melantai :)

Mungkin bebersih menjadi banyak tema dari pelatihan kemandirian Kanza di minggu ini. Dari merapikan tempat tidur, menyedot debu kamarnya, menyapu, membantu mengelap furnitur hingga kemarin, mengepel ruangan.

Ia menawarkan diri untuk mengepel ketika saya hendak mengepel ruangan.
‘Sini, aku yang mengepel saja, Bun. Bunda yang tolong cuci pel nya ya.’

Senang rasanya kalau ia bersukarela seperti itu. Tanpa pikir panjang memikirkan bagaimana hasil akhirnya saya segera menyodorkan tongkat pel padanya. Dengan sedikit contoh dari saya ia dengan semangat melakukannya. Seluruh ruangan ia pel. Kamar tidur saya dan suami, kamarnya, ruang tamu sampai dapur. Saat saya tawarkan diri untuk menggantikan, ia malah protes.

‘Ihh Bunda, biar aku yang ngepel.’

Baiklah, batin saya. Sembari menyempilkan pesan pendek padanya bahwa setiap hari diusahakan kamar tidurnya ia pel sendiri, saya merangkul bahunya dan memberi ucapan terima kasih karena telah membantu saya membersihkan lantai.

“Well, hasilnya bersih 🙂

Advertisements
0

Practice Makes Perfect

Sekali lagi (sepertinya akan berkali2 🙂 saya (akan) dihadapkan pada situasi yang membikin spaneng kepala, Tongkol haDi 🙂 dan hampiiir saja menyembur kata-kata bertekanan tinggi. Kalau saya tidak ingat-ingat penyesalan yang selalu datang belakangan, proyek kebiasaan berkomunikasi produktif yang sedang diterapkan, bisa hancur kebermaknaan hari kemarin.

Ciee, bermakna!:D

Tapi, bener juga. Hari-hari terasa lebih adem setelah berhasil meredam emosi jiwa, pikiran lebih jernih dan komunikasi dengannya lebih asyik. Dia pun lebih kompromis dan peka.

Jadi kemarin itu kami berencana pergi menghadiri acara buka puasa bareng grup Homeschooing Pijar di Tanggerang. Kanza bangun siang. Mungkin ketidaknyamanan fisik setelah bangun ditambah lapar serta haus karena berpuasa, memicunya agak bersumbu pendek.

Awalnya sih karena saya mengingatkannya untuk melakukan kebiasaan yang ia lakukan setelah bangun tidur. Tapi karena keinginannya ingin langsung bermain lego, ia kesal dan misuh-misuh gak mau mandi, gak mau buka puasa (buka puasanya jam 10 malem saja, katanya, biar lapar sekalian 😀 )

‘Trus kenapa mandi?’ katanya. ‘Abis mandi ngapain? lajutnya.

‘Biar tubuh sehat dan segar. Setelah mandi bukannya Kanza akan buka puasa? lalu bisa lanjut main lagi.’

Belum selesai saya bicara, ia sudah memotong pembicaraan.

‘Aku ga usah buka. Ga mau buka.’

Saya diam, Pendam saja kekesalan. Kalau saya berdebat melayani kesalnya bisa panjang.

“Ya sudah bunda hanya ingin mengingatkan saja. Jam berapa kamu mau mandi?’

Ia tidak menjawab tetapi malah asyik bermain lego. Saya ingatkan juga padanya bahwa hari itu kami akan pergi ke acara buka puasa bersama dengan teman-teman dari grup Homeschooling Pijar di Tanggerang. Perjalanan ke sana lama dan ada banyak yang harus disiapkan.

Ada sekitar tiga kali saya mengingatkan dia sampai agak kesal. Dari pada nantinya saya ngomel-ngomel, saya segera pergi ke kamar sejenak, menghela nafas lalu keluar dan lanjut beres-beres ruangan.

Tak lama ia tanya, ‘Jam berapa ini, Bun?’

‘Jam setengah dua belas.’ Kenapa?’

‘O y, hari ini Kan kita ke Pijar. Aku mau mandi ah. kan harus disiapin yang harus dibawa.’ (Lhaa, kan aqyu sudah bilang begituu, jawabku dalam hati)

Selanjutnya, ia inisiatif mandi, buka puasa, lalu membantu saya menyiapkan yang akan kami bawa ke acara buka bersama.

Berhasil, alhamdulillah.
Perlu latihan terus agar jadi kebiasaan. Dari kebiasaan menjadi karakter. Amiin.

0

Our Time

Waktu paling melegakan dan menyenangkan itu adalah saat chatting via wa dengan ayanya Kanza lalu dilanjut diskusi kecil saat makan bareng. Melegakan karena semua keseruan, kebahagiaan, uneg-uneg, kegalauan, atau kesedihan hari itu tumpah. Dan menyenangkan karena diskusi kami sarat canda, walau kadang-kadang tegang juga. 😀

Beberapa waktu lalu saya mengusulkan pada suami untuk selalu saling share pengalaman-pengalaman bersama anak. Walau sebagian besar waktu Kanza bersama saya. tak heran kalau setiap hari saya yang sering menshare kejadian-kejadian istimewa bersamanya. Walau demikian, diharapkan bahwa di hari Sabtu, saat ia bersamanya ia akan bercerita semua yang dilakukan bersama Kanza, kendala-kendala apa saja yang ditemui dan bagaimana cara menyelesaikannya.

Tujuannya adalah agar kami punya satu suara dalam mendidik anak dan dalam menerapkan aturan-aturan di rumah. Selain itu, setelah dijalani ternyata cerita-cerita kami sering kali menjadi momen introspeksi diri. Kamilah yang harus terlebih dahulu berubah memperbaiki diri sebelum meminta putra kami melakukan sesuatu.

Well, smoga tulisan ini berkaitan dengan tema komunikasi produktif karena tidak bercerita tentang interaksi saya atau suami dengan putra kami, Kanza, tetapi bercerita tentang cara saya dan suami mengkomunikasikan kegiatan harian

0

The Right Time (not the left :)

Menumbuhkan kebiasaan untuk menjawab ketika ada orang bertanya, tidak menyela di tengah perbincangan, masih menjadi pr kami berdua.

Saya ingat saat itu saya sedang asyik mengobrol dengan seorang teman, tiba-tiba Kanza datang tanpa permisi bertanya apakah ia boleh bermain bersama teman-temannya ke lantai atas. Atau tiba-tiba datang mendekat dan nyerocos bercerita panjang lebar tentang pengalaman yang baru dialaminya.

Beberapa orang mungkin memakluminya karena ia masih kecil. Tapi saya pribadi sangat tidak nyaman. Sejak dini anak harus dikenalkan adab dalam menyela pembicaraan.

‘Kanza bisa tunggu sebentar? Bunda sedang berbicara pada tante Nita. Tak baik menyela pembicaraan.’

Etapi, ia terus lanjut nyerocos. Saya pun diam sampai dia selesai.’ Dalam hati, ‘Ni anak ga ada sopan santunnya.’ Yaudah, pendam saja dulu.

Di kereta api dalam perjalanan pulang, saya membahas kejadian tadi.

‘Za, ingat tidak waktu Bunda sedang ngobrol dengan tante Nita dan kamu tiba-tiba cerita tentang permainan kamu dan teman-teman di lantai atas?’

‘Hmmm, yang mana ya Bun? Aku lupa.’

‘Di rumah tante Nada. Setelah Kanza main di atas, lalu Kanza ke Bunda. Bunda saat itu duduk di lantai di depan sofa.’

‘O, iya. Aku ingat.’ ia nyerosos lagi betapa serunya permainan hari itu di lantai atas. Ia bercerita tentang temannya yang menjatuhkan mobil-mobilan hingga nyaris mengenai seseorang di bawah.’

Saya dengarkan ocehannya sampai selesai.
‘Wah, seru ya!’ Ia mengangguk

“O ya, bunda ingin tanya. Kalo misalnya, Kanza sedang asyik ngobrol ama siapaa gitu. Alfi misalnya. Kanza sedang bicara. Tiba-tiba ada teman yang nanya ke Alfi. Kanza jadi harus berhenti ngomong. Perasaan kamu gimana?’

‘Hmmm, ya gak apa apa sih bun?’

‘Oo, gitu ya.’ Nampaknya ia belum paham benar.

‘Kalo bunda sih merasa tidak nyaman. Tiba-tiba ada yang nanya. Trus jadi harus stop ngomong. Seperti tadi di rumah tante Nada. Tiba-tiba Kanza cerita. Padahal bunda sedang ngobrol sama tante Nita.’ ‘Lain kali, kalo Bunda sedang bicara tolong ijin dulu, ya.’

Menurut saya, saat ia mengangguk, ia masih belum paham sepenuhnya tentang rasa ketidaknyamanan disela orang lain. Ini jadi pr kami di rumah. Caranya ijin juga dia belum tahu dan perlu banyak jam terbang membiasakan hal seperti ini.

So, hari itu saya berusaha menahan diri untuk tidak membahas tindakannya di depan orang lain walau sempat terceletuk menasihatinya secara langsung.

Pe er saya lagi. 🙂 Orang tua juga perlu belajar dan membiasakan diri untuk tahan tidak nyerocos langsung apalagi disertai bentakan, suruhan, nasihat panjang lebar saat anak melakukan hal yang kurang berkenan.