0

Five Minutes German

I started learning another language a year ago. At first my intention was to introduce my son to another language rather than his mother tongue and English. I picked up German because some words resemble English’s: brot for bread, I for Ich, Sie for she and so on. It’s also because I had once learned this when I in was senior high. I was impressed by the teacher who taught it. She taught us patiently. Sadly, I had to stop learning German when I graduated from high school.

Since a year ago I have been showing my son five minutes German. As time goes by, I am now also immersed and enjoying learning it. An application that I can download and which gives us freedom to how much time we want to learn everyday, has accompanied me and shown me the joy of learning German. Thanks to Duolingo.

Why do I learn a new language? I am not young as high school beauties or college students anymore who are still pursuing their sky high goals and careers. I am not indeed. But happiness belongs to every one. I want to be happy. I want to share to my grandchildren, if I have the opportunity to meet them, that oldness cannot prevent anyone to learn more, to educate oneself to be a better and happier person. People go abroad or around the world. Who knows that someday I also can do the same.

Education is the cure to the narrow minded (my quote) 😀

Todays’German is about adjectives:
Das ist neu: That is new
Das Kind ist leicht: The child is light
Sie is perfekt: she is perfect
Der orangenshaft ist schlecht: The orange juice is bad

Advertisements
0

Renungan

Sesal
Yang ada hanyalah sesal
Saat lidah melontarkan canda itu

seandainya ….
kau tinggalkan semua yang menyelinap di kepala
tak kauhiraukan kekata manis menyanjung diri
namun menghempaskan orang lain ke dasar

seandainya ….
pikir ini tanggap mendedah lebih dalam
merangsak apapun yang tak sesuai akal

Tak ada yang tertikam
oleh busur panah yang melesat
mendarahkan

Maafkan 😦

Jakarta, 23 Feb 2018
Teruntuk seorang kawan

0

Rumah Sains Ilma di Masjid Abu Bakar, Cawang

Sabtu 10 Februari lalu kami mengikuti acara di masjid Abu Bakar, Cawang, sebagai relawan Rumah Sain Ilma. Rumah sains Ilma adalah sebuah organisasi yang memiliki tujuan untuk meningkatkan minat siswa terhadap ilmu pengetahuan alam dengan cara bermain sains. Organisasi ini dipimpin oleh bapak Muji Marpaung. Karena prihatin melihat penguasaan sain anak-anak indonesia berada pada peringkat 48 ia bersama timnya bergerak menggalang dana untuk membiayai kegiatan bermain sain.

Ingin menjadi bagian dalam kegiatan bermanfaat ini, keluarga homeschooling masjid Abu Bakar (mosqueschooling) mengajukan diri untuk menjadi relawan dalam Gerakan Bermain Sains. Di ketuai bunda Rezky Amira Sekaton, bersama pihak masjid Abu Bakar acara ini diadakan dan melibatkan sekitar dua ratus orang siswa kelas tiga hingga lima sekolah dasar dari berbagai wilayah di Jabodetabek. Saya sendiri bertugas sebagai fasilitor di pojok anak sementara teman-teman dari mosqueschooling terjun membantu tim fasilitator Rumah Sain melakukan percobaan.

Waktu melongok ke lantai empat, dimana sepuluh percobaan sain di lakukan saya melihat anak-anak yang sangat antusias mengikuti acara ini.
Beberapa anak berkomentar, ‘Ternyata percobaan itu menyenangkan ya!’

Ya, sain tanpa percobaan akan sangat garing seperti makan keripik tak bergaram, melempem lagi 😀
Tapi ilmu pengetahuan itu tak bisa disamakan dengan keripik melempem. Ilmu pengetahuan membawa kita pada pemahaman tentang manusia, tentang dunia.

Gallery
0

Narasi

Sudah seminggu ini saya mencoba menerapkan salah satu metode Charlotte Mason di dalam kegiatan membaca yaitu bernarasi. 

Bernarasi adalah menceritakan kembali sebuah cerita yang saya bacakan. Tujuannya adalah melatih kebiasaan menyimak (habit of attention). Bernarasi ini dianjurkan dilakukan ketika anak berusia enam atau tujuh tahun, pada tahun pertama kurikulum ini diterapkan pada anak. 

Bagaimana awalnya saya mengenalkan bernarasi ini pada Kanza? Alhamdulillah, karena sejak dini Kanza sudah terbiasa dibacakan cerita atau membaca buku, tidak terlalu sulit bagi kami memintanya bernarasi. Kami selalu ceritakan padanya mengapa dan untuk apa bernarasi agar ia sadar sepenuhnya dan melakukannya tanpa terpaksa. Karena keterpaksaan dan ketakutan menghancurkan tujuan pendidikan kelurga kami: belajar dengan bahagia. Sekiranya anak-anak belum terbiasa atau tertarik, ciptakan dahulu atmosfir mencintai buku di dalam keluarga. Mulai dari diri kita sebagai orang tua karea tak adil rasanya jika kita tak tahu rasanya haus akan buku tetapi meminta anak2 untuk mencintai membaca. 

Buku-buku apa saja yang diberikan kepada anak? Charlotte menganjurkan agar orang tua menyajikan pustaka hidup (living books). Sama seperti tubuh fisik yang memerlukan makanan bergizi, kisah2 yang disajikan pada anak seharusnya yang menginspirasi, menghidupkan imajinasi, penuh pesan-pesan moral tetapi tidak terkesan menggurui sehingga jiwa dan pikiran anak terisi oleh kisah-kisah hidup. 

Untuk Kanza saat ini, di tahun pertamanya, kami hanya membacakan satu paragraf setiap hari dari salah satu pustaka hidup wajib yang kami bacakan. Bacaannya pun di bacakan satu kali dan tidak boleh diulang karena tujuan dari bernarasi ini adalah ‘memperhatikan/menyimak.’ Banyaknya cerita yang ia ceritakan kembali bukan target akhir. Sedikit apapun narasi yang ia hasilkan, selama ia memperhatikan dengan penuh kesadaran dan kesungguhan sudah mencukupi untuk saat ini. 

Always start small.