Gallery
0

The Planner

Beberapa waktu ini, Kanza sedang senang bermain Ludo, Ular Tangga, Catur dan Chinese Checker. Kalaupun diberikan beberapa pilihan kegiatan, fokusnya tetap pada permainan yang ia sukai. 

Dalam hal ini saya tak mau memaksa. Bagi kami, beberapa rutinitas utamanya telah selesai, kami membebaskannya untuk bermain yang ia sukai.

Kemarin ia berencana ingin mengundang teman2nya bermain Ludo bersama. Ia menggambarkan rencana dan runutan acara yang ia buat. Wow, saya sendiri merasa takjub. Betapa serius ia membuat plan bermainnya. Berikut susunan acara yang ia buat:

1. Hompimpa bersama, jam 14.00

2. Main Ludo bareng, jam 15.00

4. Main Ular tangga: 16.00

6. Berdoa  lalu pulang

Pagi harinya, ia bangun awal dan mengajak saya berolah raga. Tau apa yang  dimintanya: membuat ludo raksasa di halaman rumh. Kaget donk saya. Ia bilang 

‘Pakai kapur, Bun’

Saya tak mau mengecewakannya. Kami pun membuat bersamaP 

Advertisements
Gallery
0

Me time

Anak dan laki sedang pergi sementara aku sendiri di rumah yang swuper berantakan. Tau yang kulakukan? Me Time: Leyeh- leyeh, selonjoran, baca dan nyetatus. 😀

Nggak beberes rumah? 

Nggak donk. Nanti saja waktu mereka pulang kami sama-sama bebenah. Biar sama-sama merasakan kekacauan, kenyamanan serta kerapihan rumah 😉

Gallery
0

Hari kedua proyek kedua: mengecat kamar tidur

Sejak pagi kami tak mandi 😀 Tak apa kan? Dari kemarin kami memang sudah sepakat untuk mandi sore saja karena akan melanjutkan pekerjaan mengecat rumah.

Kanza masih bersemangat hingga ingin menggapai dinding bagian atas pakai tangga. Kebayang atuh bagaimana ia akan mengecat sementara ia belum cukup tinggi. Karena khawatir saya tdk dapat memeganginya saat berada di puncak tangga, saya berinisyatif mengambil bangku.  Ia pun berdiri di bangku dan mengecat sesuai yang dapat dijangkaunya. Karena masih ingin mengecat bagian atas dinding, ia mengambil empat boks susu bekas dan meletakkan di kanan kiri kaki-kaki kursi. Untunglah saya tak berkomentar langsung bahwa itu sangat riskan membuatnya terjatuh. 

‘Ow, Kanza ingin naik kursi lagi?’ 

‘Iyah.’

‘Kira-kira kuat, ga ya?’

‘Kuatlah, Bun.’ Ia menjawab penuh percaya diri. Saya mengawasinya saat ia menginjak dus susu untuk bisa naik ke kursi. Saat kakinya menjejak, dus itupun seketika melenyon. Ia pun nyengir sambil menatap penuh arti pada saya. 

Ada lagi akalnya: Ia menumpuk dus-dus dan meletakkan kaleng cat di bagian paling atas. Tujuannya membantu saya agar saya tidak berulang kali membungkuk meraih cat. Untungnya tutup cat yang ia letakkan disamping kaling jatuh. Diangkat dan diletakkannya kembali kaleng cat itu ke atas lantai.

Seperti saran saya, Kanza pun mengecat bagian bawah sisi kiri dinding. Saya melanjutkan bagian yang kemarin belum  selesai.

Dalam pengerjaan hari kedua ini, kami banyak belajar mengkomunikasikan banyak hal dan menahan perasaan untuk tidak mengedepankan emosi saat kami berbeda pendapat. Seperti biasa diakhir mengecat hari ini ia berkata, ‘I am tired, Bun, but it’s fun.’

Gallery
0

Consistency, Distraction, and Mood

Menjaga konsistensi saat mengerjakkan sebuah proyek bersama anak itu merupakan hal yang sangat menantang. Kenapa? Pertama, bekerja sama dengan bocah berusia 6 tahun artinya adalah dilarang bosan memberitahu agar ia tidak mudah terdistraksi. Kedua, tak bosan juga melatih emosinya yang melonjak-lonjak, berubah-ubah untuk tetap stabil. Saat semangat memuncak, ia ingin segalanya segera dilaksanakan. Ia belum paham bahwa untuk melaksanakan suatu proyek diharapkan kita memiki rencana persiapan yang tidak sebentar. Yang ketiga saya harus siap menerima jika project  tidak selesai  si hari itu atau sama sekali tidak tuntas. Ini juga jadi ajang latihan lagi untuk selalu menyelesaikan suatu pekerjaan  yang sudah dimulai.

Project- project kami ini bukan yang besar, ya. Project-project sederhana seperti menata kamar, memasak, membuat mainan atau membuat video.

Nah, project kami hari ini adalah mencat kamar. Pokoknya ia ingin kamarnya dicat. Tadinya ingin berwarna merah agar sama dengan warna kereta  yang sedang ia sukai. Karena intinya adalah gambar kereta, kami bersepakat bahwa jika nanti mencat selesai kami akan mencadi stiker kereta saja.

Dan seperti yang disebutkan di atas, bahwa anak-anak mudah terdistraksi, saat teman-temannya datang ia menunda rencana mencat dan memilih bermain lalu menonton dahulu.

Semangatnya yang menggebu membuatnya sedikit enggan mempersiapkan apa yang diperlukan. Maunya langsung mencat. 

‘Ayo bun, aq sudah tidak sabar, nih. ‘

Saya pun memintanya mempersiapkan kertas koran bekas dan meletakannya diatas lantai. Saya mempersiapkan lap basah, kuas dn ember air. 

Saya mengatakan padanya bahwa seluruh ruangan tidak akan dicat sekaligus  hari ini karena waktu yang tidak mencukupi. Jadi saya memberi batas, mana saja yang diselesaikan hari ini. Ada komentarnya saat mengecat tadi:

‘Cape juga mencat ya, Bun.’

‘Yupz.’ Jawab saya pendek. 

Kami menyelesaikan target hari ini dan lanjut esok hari.