0

Smooth :)

Seharian kemarin kami pergi pergi bersama lagi dari pagi hingga sore. Dan tentu saja cape sangat. Well, karena saya tak mau gagal lagi, saya sudah pasang alarm emosi sejak bangun tidur hingga menjelang mengistirahatkan badan di malam hari.

Alhamdulillah, berjalan mulus: saat di perjalanan, di lokasi kegiatan dan di rumah sepulang berkegiatan. Pagi hari walaupun agak rewel karena mengantuk, ia bangun tanpa marah-marah. Ketika saya menegonya untuk bermain bermain game di hape setelah kegiatan yang kami lakukan bersama usai pun, ia tidak uring-uringan . Demikian juga aat saya memintanya untuk menunda membuat sambungan rel kereta karena hari sudah semakin larut, saya lelah dan harus tidur untuk mempersiapkan sahur tadi pagi, ia juga paham.

Intinya, sepanjang nada suara saya tidak meninggi alias datar saat suaranya naik lima oktaf dan memberi penjelasan logis, semua baik-baik saja. Ia lebih pengertian dan mau bekerja sama.

‘Bunda sudah sangat lelah. Za. Bagaimana kalau membuat switches nya hari sabtu bersama ayah. Kalau buat sekarang waktunya akan sangat lama, sedang bunda harus istirahat untuk persiapan sahur nanti pagi. Membuat switches memerlukan perhitungan dan presisi.’

‘Maksudnya perhitungan dan presisi itu apa?’ tanyanya

‘Maksudnya, kita perlu mengukur dahulu seberapa besar dan banyak rel yang harus dipotong, lalu disesuaikan dengan rel yang lain. Agar nanti ketika di pakai kereta akan berjalan mulus di rel ini. Nah semua itu tidak akan selesai dalam waktu satu jam.’ Menurut Kanza bagaimana?’ Bunda sih sudah tak kuat. Bunda ingin segera istirahat.’

‘Ya sudah hari Sabtu saja.’ jawabya. ‘Tapi aku mau gambar-gambar switches nya saja boleh?’

‘Boleh.’ ‘Setelah itu tidur ya. Tubuh Kanza juga perlu istirahat selain itu agar tidak kesiangan. Kan kita akan sahur nanti subuh. Bunda tidur ya.’ pungkas saya

Ia mengangguk sambil berkata ia dan berlari mengambil kertas dan spidol.

0

Yours and Mine

Kelelahan yang sangat berat semalam membuat saya ‘agak naik.’ Saat akhirnya keluar tekanan suara yang rada meninggi, saya menyesal. Kenapa teknik yang baruuu saja di pelajari dan dipraktikan tidak ngefek: tarik nafas, keluarkan, santai, bersuara dengan datar.

Kemarin, ceritanya, saya berkegiatan dengannya sehari penuh: ke kampus, membeli tinta printer, ke perpus untuk mengembalikan dan meminjam buku, dan membeli investasi. Well, intinya kami berangkat dari jam delapan pagi dan sampai di rumah sepuluh menit sebelum bedug maghrib.

Alhasil, kami tak ke masjid untuk sholat maghrib berjamaah dan buka bersama padahal momen-momen ini adalah hal yang selalu ia nantikan. Saya harus menyiapkan makanan buka puasa untuk ayahnya dan saya katakan bahwa ke masjid Isya saja dilanjut tarawih dan tadarus.

Ia setuju dan kami berangkat pas sholat isya lalu tarawih. Nah, tadi malam ustadz penceramah telat datang sehingga yang biasa selesai jam setengah sembilan, bahkan jam sembilan kurang sepuluh pun ustadz masih berceramah. Karena suaranya tak jelas sampai ke lantai bawah, saya memutuskan untuk pulang dahulu. Maksud hati ingin baringan di rumah dahulu. Nanti jika telah selesai kami kembali lagi untuk lanjut tadarus di masjid.

Sementara itu, Kanza tak mau pulang tapi juga tak mau ditinggal sebentar karena sedang asyik bermain bersama teman-temannya. Ia ingin saya tetap tinggal di masjid sampai ustadz selesai berceramah, sholat witir lalu tadarus. Saat itu lelah sudah maksimal. Karena saya memang berniat tidak akan sholat witir dahulu, saya merasa bahwa akan sangat lama sekali jika saya harus berada di sana setengah jam lagi sampai semua selesai.

Daaan, debatpun terjadi. Ia ingin tetap di masjid sementara saya ingin pulang dahulu. Kemungkinan debat tak akan terjadi sekiranya saya menerapkan teknik negosiasi dan berkata-kata dengan biasa saja tanpa tekanan. Semakin tinggi suara, semakin saya keras, penolakannya pun semakin kuat. So, no win win solution.

Akan berbeda jika saya berkata seperti ini.

‘Bgm kalo mainnya lima menit lagi, lalu Kanza antar Bunda pulang dulu ke rumah Bunda harus istirahat sebentaaar saja karena Bunda cape sekali. Setelah itu, kita balik lagi untuk tadarus?’

Perlu banyak latihan menahan diri nih terutama saat lelah, ngantuk, dan lapaaar. Coba lagi.

0

Awas!

Ini sebenarnya tulisan yang ketiga karena kedua tulisan di judul ini hilang. Pertama berjudul ‘Kecupan,’ kedua ‘Bahasa Cinta Kami,’ dan yang ini berjudul seperti di atas. Semoga tidak hilang lagi.

Saya menulis ini sebagai latihan menuangkan gagasan juga memenuhi tantangan hari ke-6 di Kuliah Bunda Sayang.

Tanggal lima lalu kami berada di masjid. Saya sholat taraweh sementara Kanza bermain bersama temannya di luar. Saat mengecek ternyata mereka tengah bermain di tangga masjid. Saya melihatnya sedang bermain perosotan di tembok pegangan tangga.

Seketika saya panik. Saya khawatir ia jatuh karena tangga masjid tergolong curam. Selain itu, ini pertama kali ia berani menggantungkan badannya dengan tangan memegang pegangan tangga lalu meluncur ke bawah. Kalo tangannya terlepas ia bisa terjatuh.

‘Za, Awas! Kok main perosotan di situ.? Ayo, turun.’ Reaksi saya langsung memberi perintah.

Kemudian saya ingat satu hal. Terkadang anak-anak ingin mencoba hal-hal baru yang nampak membahayakan bagi kita orang dewasa tetapi tidak bagi mereka. Mereka cenderung mengeksplorasi tanpa tahu bahayanya dan saya sebagai orang tua bertugas mengawasi dan berusaha tidak memberi tahu dengan cara yang justru membuat mereka semakin penasaran lalu terus mencoba tanpa tahu akibatnya. Mereka juga berhak untuk mencoba hal yang baru tetapi juga tahu konsekuensinya sehingga mereka akan lebih hati-hati. Gaya komunikasi orang tua terkadang mematikan keingintahuan atau kesempatan anak belajar hal baru

Karenanya saya coba ubah gaya bahasa saya dengan menegonya.

‘Kamu ga takut jatuh bergelantungan disitu lalu meluncur ke bawah, Za?’
‘Kan tanganku sudah kuat, Bun.’ ‘Aku gak akan jatuh, kok. Nih, lihat tanganku pegang tangga jadi gak jatuh.’
‘Bagaimana kalau perosotannya di sisi yang lebih bawah saja?
‘Di sana ada teman-teman.’ jawabya.
‘Nampaknya di bawah tidak terlalu berbahaya. Menurut bunda perosotan di situ terlalu tinggi. Tinggi badan mu masih jauh dari lantai. Kalau jatuh, salah satu anggota badanmu bisa patah. Mending sebelah sini saja yuk.’ ‘Kalau Bunda sudah selesai sholat, Bunda mau temani kamu main di tempat yang tinggi. Tapi sekarang, Bunda masih harus sholat.’ ‘Yuk.’

Agak lama membujuknya tetapi akhirnya ia beringsut turun.

‘Hati-hati bermain di tangga ya.’ ujar saya sebelum kembali masuk ke masjid.

Agak ketar-ketir sih tapi saya coba beri kepercayaan padanya bermain di sana.

0

Lempengin aja :)

Urusan sepele seperti mengambil gelas saja bisa jadi ramai kalau saja kemarin sayapun ikutan terbawa esmosi.:D Untunglah puasa membantu mendinginkan kepala.

Usai berbuka, bakda dzuhur, Kanza berkata bahwa ia ingin minum. ‘Bun, aku haus.’
‘Kalau haus bagaimana, sayang?’ tanya saya
‘Tetapi gelasnya tidak ada.’ Nadanya tetiba sedikit meninggi. Eits, kenapa nih? Alarm emosi saya menyala.

Sebenarnya, sebelum itu. ia agak kesal karena hand phone saya sedang dicas sementara jadwalnya bermain game di hape tiba dan ia ingin Minecraft. Saya katakan padanya untuk menunggu hingga hape mencapai seratus persen. Iapun kesal tetapi juga menerima kekesalannya.

Kekesalannya berlanjut takala saya memintanya mengambil gelas minum sendiri di dalam lemari. Keinginan dia sih, saya mengambilkan gelas seperti saat ia belum mampu menjangkaunya. Kami berada di dapur saat itu: saya memasak dan ia berada di pintu dapur.

‘Itu gelasnya, Nak.’
‘Aku gak mau, aku ga bisa ambil.’
‘O begitu? Bukankah kemarin-kemarin kita sudah coba dan Kanza bisa?’
‘Iya sih, tapi aku ingin bunda yang ambilkan.’
‘Bunda sedang menggoreng nak, Kanza tolong bunda ambil sendiri gelasnya ya.’

Tiba-tiba dia marah dan merepet tidak mau minum, biar haus, tidak mau main hape. Tidak usah ada komitmen-komitmenan 😀

Untuk urusan gadget, kami memang membuat kesepakatan bahwa Kanza punya waktu dua jam sehari untuk main Minecraft dan nonton.

Saya hanya diam, menahan nafas dan berkata datar.
‘Baiklah, tidak apa-apa. Kalo kanza mau minecraft, sabar ya. Tinggal menunggu sepuluh persen lagi kok.’ jawab saya datar. Saya masuk sebentar ke dalam dan mencabut kabel cas-an hape. Saya tidak berkata apapun padanya karena pengalaman sebelumnya ketika saya katakan bahwa baterai hape sudah terisi penuh, ia tetap marah. Jadi, saya diam.

‘Aku gak msu mine craft. Gak usah ada minecraft!’ teriaknya. Lalu ia mendekat ke dekat saya di depan penggorengan sambil merengek, ‘Bun, aku haus.’
‘Tolong bunda ambil gelas sendiri ya.’ ulang saya.
Ia tambah kesal dan mulai menangis, lalu berlari ke depan rak gelas dan meraih-raih gelas tetapi tidak mengambilnya. 🙂 Saya tergelak ditahan karena tak mau membuatnya semakin marah. Ia sedang menunjukkan pada saya bahwa ia tidak bisa meraih gelas itu.

Kemudian ia berlari ke dalam. Ketika melihat hape sudah tidak dicas, ia berlari lagi ke dapur dan bertanya, ‘Siapa yang mencabut cas-an hape, bun?’ masih dengan suara merengek.
‘Bunda. SIlakan kalo Kanza ingin Minecraft.’
‘Gak mau.’ teriaknya. Tetapi ia berlari ke dalam, berdiri di depan hape dan meraihnya pelan.’ 😀
‘Bun, aku mau minecraft.’ ia lari ke kamar.
‘Iya, boleh.’ jawab saya datar.
‘O ya, Za. Kamu mau buka puasa nasi dan lauk jam berapa?’ saya mengingatkannya untuk makan. Urusan satu ini pun beraaat karena ia tergolong anak yang susah sekali makan.
‘Aku gak mau makan.’ suaranya terdengar masih marah.
‘Baiklah. Bunda hanya mengingatkan saja kalo sudah waktunya untuk makan. Kalo Kanza lapar, nasi dan ayam di meja makan ya. Bunda mau istirahat dulu.’ Ia diam dan saya berjalan ke kamar depan dan berbaring.’

Selang berapa menit, ia mendekati saya dan bilang. ‘Bun, aku mau minum ya.’ Suaranya tidak lagi terdengar kesal. Ia ke dapur lalu meraih gelas. 🙂 Lalu kembali dan berkata lagi, ‘Bun, aku mau makan tapi ga mau pakai nasi. Aku mau ayam yang bunda goreng tadi malam.’
‘Ada di mangkuk di dalam tudung saji, Za. Ambil saja.’
Ia berlari ke dapur dan tak lama setelah itu terdengar suara kriuk-kriuk samar dari kamar sebelah 😀

Kalau dari awal saya ikut terbawa emosi kemungkinan ia akan Bete seharian dan saya akan merasa sangat bersalah mendidiknya dengan kemarahan. Jadi, tarik nafas dalam, berkata dengan ‘lempeng’ tanpa emosi dan let it go.