0

Panic!

Apa yang terjadi ketika dedlen semakin mepet sementara gula belum juga sampai.

Kok gula? :}
Ya, ceritanya saya harus menyelesaikan pesanan es buah jam lima sementara saya kehabisan gula. Selain itu buah-buahan belum di masak dan didinginkan. Sayapun meminta tolong suami membelikan gula. Dari dapur saya melihat ayanya kanza membawa motor. Ini membuat saya bertanya-tanya dalam hati,’Kenapa bawa motor, wong warungnya ga jauh, kok?’ Alhasil saya curiga kalau ia mampir beli hal lain selain gula.

‘Duh, ayah lama sekali begi gula, Za.
Ayah beli gula kemana sih?’ nada suara saya terdengar panik. “Bunda minta tolong belikan gula di warung belakang, kok malah pakai motor. Beli gula dimana sih?’

Eh, ndilalah Kanza ikutan panik bahkan sampai menangis. Ia mengira ayahnya tidak pulang.

‘Ayah kemana, Bun?’ isaknya.

Saya kaget bukan kepalang, paniknya saya menular begitu cepat padanya dan menimbulkan reaksi yang tidak saya bayangkan sebelumnya. Kanza menangis bertambah keras. Wajahnya nampak tegang dan tak henti bertanya ayah kemana.

Salah saya ini,’ kata saya dalam hati berulang-ulang.
Saya pun segera menenangkannya, mengatakan padanya bahwa ayah mungkin beli gula ke pasar dan bahwa sebentar lagi pulang.

Pelajaran buat saya: jangan pernah menampakan kepanikan di hadapannya. Keep calm, be patient, and focus on the task. Kalopun mau curhat padanya usahakan dengan nada biasa saja.

Ah… gula … gulaa. Eh, sayaa, sayaa! 😀