0

Practice Makes Perfect

Sekali lagi (sepertinya akan berkali2 🙂 saya (akan) dihadapkan pada situasi yang membikin spaneng kepala, Tongkol haDi 🙂 dan hampiiir saja menyembur kata-kata bertekanan tinggi. Kalau saya tidak ingat-ingat penyesalan yang selalu datang belakangan, proyek kebiasaan berkomunikasi produktif yang sedang diterapkan, bisa hancur kebermaknaan hari kemarin.

Ciee, bermakna!:D

Tapi, bener juga. Hari-hari terasa lebih adem setelah berhasil meredam emosi jiwa, pikiran lebih jernih dan komunikasi dengannya lebih asyik. Dia pun lebih kompromis dan peka.

Jadi kemarin itu kami berencana pergi menghadiri acara buka puasa bareng grup Homeschooing Pijar di Tanggerang. Kanza bangun siang. Mungkin ketidaknyamanan fisik setelah bangun ditambah lapar serta haus karena berpuasa, memicunya agak bersumbu pendek.

Awalnya sih karena saya mengingatkannya untuk melakukan kebiasaan yang ia lakukan setelah bangun tidur. Tapi karena keinginannya ingin langsung bermain lego, ia kesal dan misuh-misuh gak mau mandi, gak mau buka puasa (buka puasanya jam 10 malem saja, katanya, biar lapar sekalian 😀 )

‘Trus kenapa mandi?’ katanya. ‘Abis mandi ngapain? lajutnya.

‘Biar tubuh sehat dan segar. Setelah mandi bukannya Kanza akan buka puasa? lalu bisa lanjut main lagi.’

Belum selesai saya bicara, ia sudah memotong pembicaraan.

‘Aku ga usah buka. Ga mau buka.’

Saya diam, Pendam saja kekesalan. Kalau saya berdebat melayani kesalnya bisa panjang.

“Ya sudah bunda hanya ingin mengingatkan saja. Jam berapa kamu mau mandi?’

Ia tidak menjawab tetapi malah asyik bermain lego. Saya ingatkan juga padanya bahwa hari itu kami akan pergi ke acara buka puasa bersama dengan teman-teman dari grup Homeschooling Pijar di Tanggerang. Perjalanan ke sana lama dan ada banyak yang harus disiapkan.

Ada sekitar tiga kali saya mengingatkan dia sampai agak kesal. Dari pada nantinya saya ngomel-ngomel, saya segera pergi ke kamar sejenak, menghela nafas lalu keluar dan lanjut beres-beres ruangan.

Tak lama ia tanya, ‘Jam berapa ini, Bun?’

‘Jam setengah dua belas.’ Kenapa?’

‘O y, hari ini Kan kita ke Pijar. Aku mau mandi ah. kan harus disiapin yang harus dibawa.’ (Lhaa, kan aqyu sudah bilang begituu, jawabku dalam hati)

Selanjutnya, ia inisiatif mandi, buka puasa, lalu membantu saya menyiapkan yang akan kami bawa ke acara buka bersama.

Berhasil, alhamdulillah.
Perlu latihan terus agar jadi kebiasaan. Dari kebiasaan menjadi karakter. Amiin.