Gallery
0

Membuat Stop Motion Video


Tulisan kali ini adalah laporan dari kegiatan yang dilakukan hari kamis lalu. Baru hari ini dapat dicatat karena Kamis dan Jumat lalu nenek Kanza harus ditemani hampir sepanjang waktu oleh saya.

Jadi, di hari itu minta buat stop motion video karena ayah telah membelikannya tripod mini. Ia ingin membuat video kereta krl di Indonesia. Keretanya? Alhamdulillah kami punya karena kami pernah membuatnya dari dus susu 200 ml bekas tahun lalu.

Biasanya jika Kanza ingin membuat banyak hal, yang banyak bekerja adalah ayah atau bundanya. Kali ini saya membisiki ayah agar Kanza memiliki peran yang lebih besar. Biarkan dia yang memutuskan video seperti apa yang ia inginkan, apa saja yang diperlukan, dan bagaimana melakukannya.  

Mereka pun berbagi tugas:

Ayah:

1. Memasangkan hape pada tripod.

2. Memberi masukan di mana sebaiknya pengambilan gambar di lakukan. 

3. Membantu meng-upload video ke You Tube.

Kanza:

1. Mempersiapkan kereta-kereta yang akan menjadi bintangnya.

2. Merancang cerita

3. Melakukan pengambilan gamba.

Bunda: 

Mengamatinya saat pengambilan gambar sambil meyiapkan makanan akung uti. Kebetulan pengambilan gambar dilakukan di dapur karena terang.

Ada 100 lebih gambar yang ia ambil saat itu. Kereta-kereta ia jalankan sedikit demi sedikit, ke kanan dan ke kiri.
Hasilnya bisa di lihat di sini

0

The Big Book of Couplers :)

Jam sepuluh tadi pagi kami membahas proyek kami membuat buku tentang Coupler/sambungan kereta. Saya tanyakan padanya apakah ia paham apa maksud dari proyek membuat buku. Jawabannya sih dia bilang mengerti. Lalu saya tanyakan kira-kira untuk membuat buku seperti ini apa saja yang diperlukan. Dia hanya berkata pendek dengan gaya meniru salah satu dialog di film Ballerina, ‘Aiii do no (I don’t know.)’

‘Baiklah kalau begitu.’ saya berkata. ‘Waktu Kanza membaca buku The Big Book of Space, kira-kira apa saja ya yang kita perlukan untuk membuat sebuah buku?’ jelas saya.

‘O y, aku ngerti. Kita perlu printer.’

‘Printer?’ tanya saya

‘Ya, printer gambar-gambar.’

‘O, maksudnya hasil print out gambar-gambar?’

‘Iya.

Selanjutnya?’

‘Kertas, yang tebal dan yang tipis.’

‘Lalu?’ ‘Bagaimana membuatnya tidak terpisah-pisah,Za?

‘Pakai binder clip saja bun. Ya, binder clip.’

‘Oke.’ ‘Bagaimana jika kita tulis saja yang barusan Kanza sebutkan?’

Ia mengangguk.

‘Kanza yang tulis, ya?’

‘Ga, ah. Bunda saja.’

Saya pun membantunya menuliskan apa saja yang diperlukan.
Sewaktu mencari gambar dan mencetaknya, ada sedikit kejadian unik. Ia banyak sekali terdistraksi oleh gambar-gambar lain. Atau tetiba ia beralih ke lego dan segera membuat sebuah sambungan kereta yang baru ia lihat.

Baru mencetak tiga gambar, ia sudah merasa bosan. Kamipun berhenti dari mencari gambar dan mencetak.

Sambil bersantai, saya katakan padanya bahwa dalam membuat project ini kita perlu menyediakan waktu khusus untuk mencari, meneliti, memilah, mencatat, membuat dan menyelesaikan pekerjaan yang sudah dimulai.

Tidak banyak yang saya katakan hari ini agar ia tidak bingung. Hari ini cukup saling bersepakat bahwa setiap hari kami akan meluangkan waktu selama setengah hingga dua jam melaksanakan project ini.

……..

Esok hari, Ayah akan membersamai dia melanjutkan apa yang telah kami lakukan hari ini: gugling sambungan kereta, menyediakan kertas karton, mencetak, dan mencatat apa saja yang diperlukan di dalam pembuatan buku ini.

0

Practice Makes Perfect

Sekali lagi (sepertinya akan berkali2 🙂 saya (akan) dihadapkan pada situasi yang membikin spaneng kepala, Tongkol haDi 🙂 dan hampiiir saja menyembur kata-kata bertekanan tinggi. Kalau saya tidak ingat-ingat penyesalan yang selalu datang belakangan, proyek kebiasaan berkomunikasi produktif yang sedang diterapkan, bisa hancur kebermaknaan hari kemarin.

Ciee, bermakna!:D

Tapi, bener juga. Hari-hari terasa lebih adem setelah berhasil meredam emosi jiwa, pikiran lebih jernih dan komunikasi dengannya lebih asyik. Dia pun lebih kompromis dan peka.

Jadi kemarin itu kami berencana pergi menghadiri acara buka puasa bareng grup Homeschooing Pijar di Tanggerang. Kanza bangun siang. Mungkin ketidaknyamanan fisik setelah bangun ditambah lapar serta haus karena berpuasa, memicunya agak bersumbu pendek.

Awalnya sih karena saya mengingatkannya untuk melakukan kebiasaan yang ia lakukan setelah bangun tidur. Tapi karena keinginannya ingin langsung bermain lego, ia kesal dan misuh-misuh gak mau mandi, gak mau buka puasa (buka puasanya jam 10 malem saja, katanya, biar lapar sekalian 😀 )

‘Trus kenapa mandi?’ katanya. ‘Abis mandi ngapain? lajutnya.

‘Biar tubuh sehat dan segar. Setelah mandi bukannya Kanza akan buka puasa? lalu bisa lanjut main lagi.’

Belum selesai saya bicara, ia sudah memotong pembicaraan.

‘Aku ga usah buka. Ga mau buka.’

Saya diam, Pendam saja kekesalan. Kalau saya berdebat melayani kesalnya bisa panjang.

“Ya sudah bunda hanya ingin mengingatkan saja. Jam berapa kamu mau mandi?’

Ia tidak menjawab tetapi malah asyik bermain lego. Saya ingatkan juga padanya bahwa hari itu kami akan pergi ke acara buka puasa bersama dengan teman-teman dari grup Homeschooling Pijar di Tanggerang. Perjalanan ke sana lama dan ada banyak yang harus disiapkan.

Ada sekitar tiga kali saya mengingatkan dia sampai agak kesal. Dari pada nantinya saya ngomel-ngomel, saya segera pergi ke kamar sejenak, menghela nafas lalu keluar dan lanjut beres-beres ruangan.

Tak lama ia tanya, ‘Jam berapa ini, Bun?’

‘Jam setengah dua belas.’ Kenapa?’

‘O y, hari ini Kan kita ke Pijar. Aku mau mandi ah. kan harus disiapin yang harus dibawa.’ (Lhaa, kan aqyu sudah bilang begituu, jawabku dalam hati)

Selanjutnya, ia inisiatif mandi, buka puasa, lalu membantu saya menyiapkan yang akan kami bawa ke acara buka bersama.

Berhasil, alhamdulillah.
Perlu latihan terus agar jadi kebiasaan. Dari kebiasaan menjadi karakter. Amiin.

0

Our Time

Waktu paling melegakan dan menyenangkan itu adalah saat chatting via wa dengan ayanya Kanza lalu dilanjut diskusi kecil saat makan bareng. Melegakan karena semua keseruan, kebahagiaan, uneg-uneg, kegalauan, atau kesedihan hari itu tumpah. Dan menyenangkan karena diskusi kami sarat canda, walau kadang-kadang tegang juga. 😀

Beberapa waktu lalu saya mengusulkan pada suami untuk selalu saling share pengalaman-pengalaman bersama anak. Walau sebagian besar waktu Kanza bersama saya. tak heran kalau setiap hari saya yang sering menshare kejadian-kejadian istimewa bersamanya. Walau demikian, diharapkan bahwa di hari Sabtu, saat ia bersamanya ia akan bercerita semua yang dilakukan bersama Kanza, kendala-kendala apa saja yang ditemui dan bagaimana cara menyelesaikannya.

Tujuannya adalah agar kami punya satu suara dalam mendidik anak dan dalam menerapkan aturan-aturan di rumah. Selain itu, setelah dijalani ternyata cerita-cerita kami sering kali menjadi momen introspeksi diri. Kamilah yang harus terlebih dahulu berubah memperbaiki diri sebelum meminta putra kami melakukan sesuatu.

Well, smoga tulisan ini berkaitan dengan tema komunikasi produktif karena tidak bercerita tentang interaksi saya atau suami dengan putra kami, Kanza, tetapi bercerita tentang cara saya dan suami mengkomunikasikan kegiatan harian