0

Baby Nila, My Boy Masak Juga :)

Rencananya semalam akan buat batagor paduan ikan dan udang. Tetapi, saat keliling-keliling di bagian ikan, tak jauh dari tempat saya berdiri ada baby ikan Nila dan ikan Mas. Kanza sedang melihat-lihat dan membaca semua nama-mana suguhan laut lalu saya ajak melihat para bayi ikan itu.

Saya katakan padanya kalo ikan-ikan kecil ini enak. Apalagi kalau di goreng kering dan dimakan bersama nasi hangat.

‘Mau, mau, Bun. Aku lapar.’ ujarnya sambil mengusap perut. Saya pun mengambil beberapa centong baby Nila dan memberikannya pada pelayan untuk ditimbang.

Pulang ke rumah, ia segera menagih untuk segera memasak baby Nila.

‘Kanza bantu ya, Bun. What should I do?

‘Put the fish into the bowl and wash it, ok!’

‘Okay.’

Ia membantu saya dari mencuci, menghaluskan bumbu (walau gak halus), dan membumbuinya. Urusan menggoreng saya yang lakukan karena ia takut kena cipratan minyak panas, katanya.

Ada hal lain yang secara tak langsung ia pelajari dari proses memasak bersama ini. Ia mengenal beberapa bumbu khas Indonesia seperti Jahe, Kunyit, dan Lengkuas. Untunglah ia tak merasa jijik sewaktu melumuri semua baby Nila dengan bumbu yang baunya agak menyengat.

Senangnya kalau setiap hari seperti ini. Tetapi, saya tidak mau memaksa. Dengan melihatnya berinisyatif membantu dan melakukan prosesnya saja saya sudah senang. Tinggal saya yang harus mencari beragam cara untuk senantiasa melibatkannya dalam menyiapkan makanan hingga suatu saat ia mampu melakukannya sendiri tanpa dibantu.

0

Melatih Kemandirian

Kembali lagi bersama tugas dari Institut Ibu Profesional. Yeay … semangat! Setelah sebelumnya kami ditantang untuk menerapkan komunikasi produktif di keluarga, sekarang kami dtantang kembali dalam hal memandirian anak. Seberapa mandirikan anak-anak kita di usianya? Kemandirian seperti apa yang cocok untuk usianya? Apa saja yang perlu di lakukan untuk melatih kemandirian itu? Mendung, pelangi, hujan apa saja dan bagaimana menghadapi keseharian melatih kemandirian?

Apa itu kemandirian?
Menurut saya kemandirian adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain sementara menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti mandiri adalah bisa berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain. Kemandirian anak bisa diartikan kemampuan seorang anak untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sesuai usianya tanpa bergantung pada kedua orang tua nya atau orang dewasa sekitarnya. Sebagai contoh, putra saya, Kanza di usianya yang hampir enam tahun sudah tidak lagi tidur bersama kami atau membereskan tempat tidur sendiri.

Tentang kemandirian sesuai usia anak sebenarnya dapat di lihat di cheklist indikator perkembangan anak yang disediakan oleh dinas pendidikan. Bisa juga tengok website keren milik Mba Lala dan Mas Aar yang membahas tentang indikator perkembangan anak di sini. Orang tua dapat melatih kemandirian berdasarkan list yang tertera di sana. Walau demikian, menurut saya sesuaikan dengan karakter serta kondisi anak saat menerapkan setiap poin kemandirian.

Dalam hal menjalankan game ini, saya berusaha melibatkan suami dengan cara selalu mengupdate setiap materi, program keseharian, perkembangan, jatuh bangun setiap tantangan agar kami memiliki kesamaan misi. Selain punya misi yang sama, kami berusaha berbagi trik. Siapa tahu trik salah satu dari kami tidak pas, terlalu membebani anak atau bahkan sangat efektif.

Berikut ini adalah list kemandirian yang akan dan sedang kami jalankan di rumah.
1. Membereskan Tempat Tidur
2. Menyiapkan makanan sendiri
3. Mencuci piring sendiri sesudah makan
4. Menyiapkan keperluan pribadi
5. Membawa tas sendiri saat bepergian
6. Berani Membeli sesuatu ke warung
7. Mencari informasi sederhana tanpa diminta untuk proyek yang sedang dikerjakannya

0

Practice Makes Perfect

Sekali lagi (sepertinya akan berkali2 🙂 saya (akan) dihadapkan pada situasi yang membikin spaneng kepala, Tongkol haDi 🙂 dan hampiiir saja menyembur kata-kata bertekanan tinggi. Kalau saya tidak ingat-ingat penyesalan yang selalu datang belakangan, proyek kebiasaan berkomunikasi produktif yang sedang diterapkan, bisa hancur kebermaknaan hari kemarin.

Ciee, bermakna!:D

Tapi, bener juga. Hari-hari terasa lebih adem setelah berhasil meredam emosi jiwa, pikiran lebih jernih dan komunikasi dengannya lebih asyik. Dia pun lebih kompromis dan peka.

Jadi kemarin itu kami berencana pergi menghadiri acara buka puasa bareng grup Homeschooing Pijar di Tanggerang. Kanza bangun siang. Mungkin ketidaknyamanan fisik setelah bangun ditambah lapar serta haus karena berpuasa, memicunya agak bersumbu pendek.

Awalnya sih karena saya mengingatkannya untuk melakukan kebiasaan yang ia lakukan setelah bangun tidur. Tapi karena keinginannya ingin langsung bermain lego, ia kesal dan misuh-misuh gak mau mandi, gak mau buka puasa (buka puasanya jam 10 malem saja, katanya, biar lapar sekalian 😀 )

‘Trus kenapa mandi?’ katanya. ‘Abis mandi ngapain? lajutnya.

‘Biar tubuh sehat dan segar. Setelah mandi bukannya Kanza akan buka puasa? lalu bisa lanjut main lagi.’

Belum selesai saya bicara, ia sudah memotong pembicaraan.

‘Aku ga usah buka. Ga mau buka.’

Saya diam, Pendam saja kekesalan. Kalau saya berdebat melayani kesalnya bisa panjang.

“Ya sudah bunda hanya ingin mengingatkan saja. Jam berapa kamu mau mandi?’

Ia tidak menjawab tetapi malah asyik bermain lego. Saya ingatkan juga padanya bahwa hari itu kami akan pergi ke acara buka puasa bersama dengan teman-teman dari grup Homeschooling Pijar di Tanggerang. Perjalanan ke sana lama dan ada banyak yang harus disiapkan.

Ada sekitar tiga kali saya mengingatkan dia sampai agak kesal. Dari pada nantinya saya ngomel-ngomel, saya segera pergi ke kamar sejenak, menghela nafas lalu keluar dan lanjut beres-beres ruangan.

Tak lama ia tanya, ‘Jam berapa ini, Bun?’

‘Jam setengah dua belas.’ Kenapa?’

‘O y, hari ini Kan kita ke Pijar. Aku mau mandi ah. kan harus disiapin yang harus dibawa.’ (Lhaa, kan aqyu sudah bilang begituu, jawabku dalam hati)

Selanjutnya, ia inisiatif mandi, buka puasa, lalu membantu saya menyiapkan yang akan kami bawa ke acara buka bersama.

Berhasil, alhamdulillah.
Perlu latihan terus agar jadi kebiasaan. Dari kebiasaan menjadi karakter. Amiin.

0

Our Time

Waktu paling melegakan dan menyenangkan itu adalah saat chatting via wa dengan ayanya Kanza lalu dilanjut diskusi kecil saat makan bareng. Melegakan karena semua keseruan, kebahagiaan, uneg-uneg, kegalauan, atau kesedihan hari itu tumpah. Dan menyenangkan karena diskusi kami sarat canda, walau kadang-kadang tegang juga. 😀

Beberapa waktu lalu saya mengusulkan pada suami untuk selalu saling share pengalaman-pengalaman bersama anak. Walau sebagian besar waktu Kanza bersama saya. tak heran kalau setiap hari saya yang sering menshare kejadian-kejadian istimewa bersamanya. Walau demikian, diharapkan bahwa di hari Sabtu, saat ia bersamanya ia akan bercerita semua yang dilakukan bersama Kanza, kendala-kendala apa saja yang ditemui dan bagaimana cara menyelesaikannya.

Tujuannya adalah agar kami punya satu suara dalam mendidik anak dan dalam menerapkan aturan-aturan di rumah. Selain itu, setelah dijalani ternyata cerita-cerita kami sering kali menjadi momen introspeksi diri. Kamilah yang harus terlebih dahulu berubah memperbaiki diri sebelum meminta putra kami melakukan sesuatu.

Well, smoga tulisan ini berkaitan dengan tema komunikasi produktif karena tidak bercerita tentang interaksi saya atau suami dengan putra kami, Kanza, tetapi bercerita tentang cara saya dan suami mengkomunikasikan kegiatan harian